<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>.....geraksatria.....</title>
	<atom:link href="http://geraksatria.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://geraksatria.wordpress.com</link>
	<description>_karena kontribusi adalaha bahasa perjuangan kami_</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Nov 2011 07:45:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='geraksatria.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/2cfb98093937a48f8e87e1013248d5ab?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>.....geraksatria.....</title>
		<link>http://geraksatria.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://geraksatria.wordpress.com/osd.xml" title=".....geraksatria....." />
	<atom:link rel='hub' href='http://geraksatria.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Membangun Eskalasi Gerakan: Progresif Berkelanjutan (Bagian 2)</title>
		<link>http://geraksatria.wordpress.com/2011/07/25/membangun-eskalasi-gerakan-progresif-berkelanjutan-bagian-2/</link>
		<comments>http://geraksatria.wordpress.com/2011/07/25/membangun-eskalasi-gerakan-progresif-berkelanjutan-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 10:38:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hendra EG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gerakan Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[bem fem ipb]]></category>
		<category><![CDATA[bem se bogor]]></category>
		<category><![CDATA[gerakan mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[jakda bem km ipb]]></category>
		<category><![CDATA[sosial politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geraksatria.wordpress.com/?p=365</guid>
		<description><![CDATA[Kajian Isu yang Komprehensif Setelah menentukan isu yang akan diangkat, maka tugas selanjutnya adalah menangkaji isu tersebut sehingga dapat terlihat duduk perkara yang sebenarnya. Setelah isu menjadi jelas, maka kita akan lebih mudah untuk mencari solusi dari sebuah isu. Kajian bukanlah hal yang mudah. Tahap inilah yang biasanya menjadi kelemahan dalam sebuah gerakan, khususnya gerakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geraksatria.wordpress.com&amp;blog=5437776&amp;post=365&amp;subd=geraksatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kajian Isu yang Komprehensif</strong></p>
<p>Setelah menentukan isu yang akan diangkat, maka tugas selanjutnya adalah menangkaji isu tersebut sehingga dapat terlihat duduk perkara yang sebenarnya. Setelah isu menjadi jelas, maka kita akan lebih mudah untuk mencari solusi dari sebuah isu. Kajian bukanlah hal yang mudah. Tahap inilah yang biasanya menjadi kelemahan dalam sebuah gerakan, khususnya gerakan mahasiswa. Banyak keterbatasan pada mahasiswa, diantaranya keterbatasan keilmuan, dan informasi. Namun, ditengah keterbatasan yang ada, kita harus tetap mengkaji seoptimal mungkin isu yang ada. Jangan sampai gerakan kita menjadi gerakan yang <em>asbun</em>, tanpa ada kajian yang komprehensif. Berikut tahap-tahap yang bisa dilakukan dalam melakukan kajian, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Kuasai informasi sebanyak minggu. Buat kliping media, kumpulkan informasi layaknya Bank data. Kumpulkan informasi dari sumber-sumber terpercaya.</li>
<li>Lakukan diskusi internal atau <em>brainstorming. </em>Setiap peserta diskusi berhak mengeluarkan pendapatnya tanpa harus disaring diawal, biarkan semua pandangan keluar dari masing-masing peserta diskusi. Pendapat diharapkan berdasarkan data, tidak hanya sekedar pendapat pribadi. Setelah semua berpendapat, pilah dan kerucutkan isu menjadi lebih relevan dengan sasaran kedepan.</li>
<li>Hubungi dan lakukan kunjungan pakar atau tokoh yang kompeten pada isu yang kita angkat. Pertanyaan-pertanyaan yang keluar pada saat proses diskusi internal berlangsung, dapat ditanyakan disana.</li>
<li>Setelah dirasa sudah <em>matang, </em>hasil kajian dapat disampaikan ke instansi atau pihak yang terkait dengan isu. Sampaikan duduk perkara sesuai dengan hasil kajian yang kita buat. Sampaikan pula tuntutan mahasiswa terhadap isu tersebut. Selain itu, kita juga dapat membandingkan data yang kita dapat dengan data dari instansi terkait. Berpikilah untuk mencari solusi bersama atas isu yang ada.</li>
<li>Buatlah <em>time line</em> gerakan. List momentum yang dapat digunakan untuk<em> memboomingkan</em> isu, jika memungkinkan kita dapat membuat momentum kita sendiri.</li>
<li>Tentukan tahapan-tahapan dan parameter kesuksesan pada setiap tahapan.</li>
<li>Pantau terus perkembangan isu, mulai dari pemberitaan di media maupun opini yang terbentuk dimasyarakat.</li>
<li>Evaluasi secara berkala. Inventarisasi faktor keberhasilan dan kegagalannya.</li>
<li>Banyak isu yang bersifat jangka panjang, maka pewarisan pergerakan sangatlah penting. Pastikan dokumentasi kajian tersimpan dengan baik dan dapat diwariskan ke generasi setelahnya.</li>
</ol>
<p><strong>Bangun Jaringan dan aliansi</strong></p>
<p>Membangun jaringan dalam sebuah gerakan adalah keharusan. Kita tidak dapat membangun gerakan yang massif tanpa keterlibatan dari elemen lain. Tentunya elemen yang memiliki kesamaan visi gerakan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun jaringan, antara lain:</p>
<ol>
<li>Bergaul dengan banyak orang dan berbagai macam elemen gerakan. Hadiri undangan pertemuan mereka. Dengan kehadiran kita, mereka akan merasa dihargai, maka pada kesempatan lain mereka pun akan lebih menghargai kita.</li>
<li>Jadilah pendengar yang baik. Simpanlah hal-hal atau pemikiran-pemikiran yang mereka sampaikan ke kita, terlapas kita setuju atau tidak terhadap pemikiran mereka. Jadikan pemikiran-pemikiran tersebut sebagai penambah wawasan berpikir kita.</li>
<li>Simpan kartu nama, No HP atau alamat orang-orang yang kita kenal dan anggap penting, suatu saat nanti kita akan membutuhkan bantuan mereka. Bangun hubungan yang natural. Tanyakan kabar walau hanya via pesan singkat (SMS). Jangan sampai terbangun kesan, kita hanya berhubungan disaat kita butuh dengan mereka. Beri pujian sewajarnya, tidak menjadi penjilat. Sedikit kritik membangun yang disampaikan dengan baik, akan semakin memperkuat hubungan jaringan yang ada.</li>
</ol>
<p>Semakin banyak elemen yang bergerak bersama dengan visi dan tujuan yang sama, maka akan semakin besar <em>daya dobrak</em> gerakan dalam menggoalkan isu. Disinilah fungsinya beraliansi, agar kekuatan gerakan semakin besar dan massif. Aliansi dapat dibangun karena elemen-elemen gerakan memiliki visi gerakan yang sama. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membangun aliansi, sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Pastikan terdapat kesamaan visi, isu dan tujuan elemen yang tergabung aliansi. Bangun kesepakatan-kesepakatan strategis diawal aliansi. Jika terjadi perselisihan dikemudian hari, kembalikan kepada kesepakatan-kesepakatan yang dibuat diawal.</li>
<li><em></em>Pahami cara berpikir setiap elemen, sehingga kita dapat memilah dan memilih persamaan dan perbedaan antara gerakan kita dengan gerakan lain. Perlu diingat, beraliansi bukan berarti membuat organisasi baru, dimana terdapat peraturan kaku seperti AD dan ART yang mengatur anggotanya. Aliansi hanya bersepakat atas beberapa kepentingan yang dianggap sama, jika dirasa sudah tidak sama, maka aliansi bisa dibubarkan kapan saja. Pahami kaidah<em>,”Tidak ada kawan sejati, tidak ada lawan abadi, yang ada hanya kepentingan”.</em></li>
<li>Kadangkala ada toleransi-toleransi yang harus diberikan dalam membangun aliansi selama hal tersebut tidak menyangkut idealism, prinsip dan nilai gerakan.</li>
</ol>
<p><strong>Kuasai Media, Bentuk Opini Publik</strong></p>
<p>Media bagaikan pelita di tengah kegelapan masyarakat. Ketika masyarakat tidak mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, media merupakan salah satu faktor utama yang dapat memperkuat, memperlemah, dan bahkan membentuk norma baru di masyarakat. Malcolm X, tokoh anti rasisme kaum Afrika-Amerika yang ketokohannya dapat disandingkan dengan Dr. Martin Luther King, melihat media sebagai entiti terkuat di muka bumi. Menurutnya media mempunyai kekuatan untuk membuat apa yang benar menjadi salah, dan yang salah menjadi benar, karena media dapat mengontrol pikiran massa. Media sebagai kekuatan strategis dalam menyebarkan informasi merupakan salah satu otoritas sosial yang berpengaruh dalam membentuk sikap dan norma sosial suatu masyarakat. Media massa bisa menyuguhkan teladan budaya yang bijak untuk mengubah perilaku masyarakat.</p>
<p>Tidak aneh jika calon kepala daearah atau pemimpin negeri ini bersedia <em>merogoh kocek </em>mereka dalam-dalam hanya untuk menokohkan diri mereka di media. Mereka bagaikan artis yang setiap saatnya muncul diberbagai media yang ada, baik media masa maupun elektronik. Karena alasan itu pula, banyak partai politik pemburu suara (v<em>ote seeking</em>) atau yang biasa dikenal dengan tipe <em>catch-all party, </em>menarik tokoh dan artis terkenal guna bergabung dan menjadi bagian dari partai. Dengan demikian mereka akan mendapatkan suara tanpa harus banyak mngeluarkan biaya untuk melakukan pencitraan partai. Karena pengaruh media pula, publik melihat Sukarno sebagai seorang pemimpin besar Indonesia. Lewat radio pada saat itu, Sukarno berhasil membangun citra pemimpin kharismatik di masyarakat Indonesia, walaupun sebagian masyarakat mengetahui bahwa dalam prakteknya, Sukarno adalah pemimpin yang otoriter. Namun sekali lagi, peran media telah menggeser opini publik terhadap citra Sukarno dari seorang pemimpin diktator menjadi pemimpin yang kharismatik dan dibanggakan oleh masyarakat Indonesia. Benar kata Hitler<em>,”Kebenaran yang diucapkan terus-menerus akan mengalahkan kebatilan yang sekali diucapkan. Kebatilan yang diucapkan terus-menerus akan mengalahkan kebenaran yang hanya diucapkan sekali”.</em></p>
<p><em></em>Peran media yang begitu strategis seharusnya dapat dilirik para aktivis gerakan dalam melakukan gerakannya. Gerakan mahasiswa sebagai sebuah konstruksi realitas sosial ditengah masyarakat, mengharuskan gerakan ini dapat membangun opini masyarakat terhadap suatu isu. Sehingga dapat memberikan rasa resah yang sama di tengah masyarakat dan pada akhirnya dapat bersama-sama masyarakat melakukan gerakan yang massif. Gerakan Mahasiswa angkatan 66 dan Reformasi 98 sebagai salah satu contoh dimana gerakan mahasiswa dapat membentuk opini yang sama bahwa Sukarno dan Suharto adalah pemimpin yang harus diturunkan pada waktu itu. Mahasiswa dan masayarakat bersatu padu. Memiliki keresahan dan musuh yang sama, yaitu rezim orde lama dan baru.</p>
<p>Namun, perlu diingat, opini tidak begitu saja terbangun. Seberapa gencar pun kita menggunakan media dalam mempengaruhi publik, disaat kredibilitas kita dipertanyakan, maka publik hanya akan menjadikan pemberitaan itu menjadi angin lalu. Publik akan melihat seberapa besar kontribusi nyata gerakan kita dalam mengatasi permasalah meraka dilapangan. Inilah pentingnya gerakan horizontal. Gerakan horizontal seringkali terlupakan dalam sebuah konsep gerakan, padahal gerakan horizontal menjadi support system yang sangat penting dalam membentuk opini dan memperoleh dukungan dari publik.</p>
<p><strong>Pers, Pahami dan Bangun Relasi</strong></p>
<p>Pada Negara transisi menuju Demokrasi, pers merupakan salah satu variable penting yang menentukan apakah transisi itu berhasil atau justru gagal dan kembali ke masa otoritarian. Pers adalah penyeimbang. Ketika pers hanya diam, <em>takut</em> terhadap penguasa dan lebih cenderung memenuhi kepentingan pragmatis jangka pendeknya, maka bisa dipastikan transisi akan gagal, terjadi ketimpangan, penguasa akan merasa bebas bertindak seenak mereka. Tetapi apabila pers berani, anti suap dan maju menjadi penyeimbang dan pemantau pemerintahan, maka kemungkinan kesewenang-wenangan penguasa akan semakin dapat diminimalisir.</p>
<p>Pada realitanya, pers juga memiliki kepentingan, bisa kepentingan bisnis, ideologis, politis, atau lainnya. Pengaruh pemilik modal sangat dominan pada setiap pemberitaan yang diluncurkan pers. Terlepas dari hal tersebut, pers adalah kawan yang harus didekati, diajak dan dihargai. Bangun relasi gerakan, baik dengan institusi ataupun dengan personal wartawannya. Relasi dengan institusi pers dapat dilakukan secara formal kelembagaan, misalnya: kunjungan, diskusi, <em>partnership</em> atau <em>sponshorship</em> kegiatan. Sedangkan relasi dengan personal wartawannya lebih bersifat pribadi dan sangat personal. Relasi yang personal ini biasanya lebih strategis dalam rangka mengikutsertakan pers dalam agenda-agenda gerakan. Oleh sebab itu, dalam dunia gerakan, kedekatan kita dengan pers sangat mempengaruhi keterlibatan pers dalam mendukung dan memberitakan setiap aktivitas dari gerakan. Wartawan yang sangat strategis untuk dijalin relasinya adalah wartawan peliputan. Aktivitas gerakan akan tersosialisasikan dengan baik ke publik manakala diliput oleh wartawan peliputan, dan kemudian dimuat dimedia wartawan yang bersangkutan. Selain itu, bangun relasi dengan pimpinan media atau pemimpin redaksi, karena mereka punya otoritas dalam menentukan <em>mainstream </em>isu di media. Kiat praktis membangun relasi dengan pers, sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Buatlah data base yang mencakup nama pers, nama media, alamat media, No HP, nomor telepon media, dan fax. Jikalau memungkinkan, minta juga data base pimpinan redaksi media tempat mereka bekerja.</li>
<li>Informasikan setiap aktivitas gerakan dan meminta masukan, dengan begitu mereka akan merasa dihargai dan terlibat dalam setiap gerakan kita.</li>
<li>Bangun hubungan secara berkala, sekedar menyapa, silaturahim atau bertanya kabar, ini akan sangat berkesan dan simpatik. Jangan menghubungi wartawan hanya jika sedang butuh peliputan, ini akan mengesankan gerakan hanya memanfaatkan pers, tidak<em> take and give</em>.</li>
<li>Lakukan kunjungan ke kantor-kantor pers untuk <em>sharing</em>, tukar pendapat atau berdiskusi.</li>
<li>Tokoh gerakan harus siap diwawancarai oleh pers. Jangan pelit, <em>sok</em> sibuk, atau jual mahal, hargai setiap tawaran dari pers. Apabila ingin menolak, menolak dengan baik dan hikmah.</li>
<li>Hargai pers, jangan pernah membuat mereka kecewa. Tepati janji-janji kita ke mereka. Jangan menyinggung perasaan mereka.</li>
</ol>
<p><strong>Artikulasi Gerakan</strong></p>
<p>Artikulasi gerakan diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam upaya untuk mencapai tujuan pengangkatan sebuah isu. Artikulasi gerakan harus disesuaikan dengan tujuan dari pengangkatan isu tersebut. Sejauh mana isu akan dibawa ke ranah publik. Beberapa pilihan artikulasi gerakan yang dapat dilakukan, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Diskusi Publik. Diskusi publik dapat dilakukan dalam rangka melempar isu ke publik yang terbatas atau sekedar ingin memperkaya hasil kajian. Undanglah elemen gerakan lain dan pihak terkait lainnya, baik yang pro atau yang kontra dengan isu yang kita angkat. Dari diskusi publik ini kita akan mendapatkan pandangan-pandangan baru seputar isu, pandangan-pandangan tersebut akan semakin memperkaya wawasan kita seputar isu, sekaligus mencerdaskan audiens yang hadir.</li>
<li>Pernyataan sikap lewat pers. Pernyataan sikap ini merupakan langkah final dalam fase kajian. Pada tahap ini kita sudah yakin dengan menyatakan sikap atas suatu isu. Sikap ini dikeluarkan dari hasil kajian komprehensif yang telah dilakukan.</li>
<li>Audiensi ke lembaga atau instansi terkait.</li>
<li>Propaganda media, dapat melalui selebaran atau <em>social media</em> pada dunia maya.</li>
<li>Aksi masa atau demonstrasi.</li>
</ol>
<p>Membangun gerakan adalah proses, setiap bagian menjadi penting untuk dilakukan. Bagian-bagian yang dijelaskan di atas akan semakin menguatkan pergerakan, sehingga akan terjadi eskalasi pergerakan yang diharapkan. Bagian tersebut bisa jadi tidak berlangsung secara runut, disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Sangkala. 2007. <em>Knowledge Management</em>. Jakarta: Raja Grafindo Persada.</p>
<p><strong>Hendra Etri Gunawan</strong></p>
<p align="left">Kordinator BEM se Bogor 2010.</p>
<p align="left"> Direktur Eksekutif <em>Institute for Regional Investment and Development Studies</em> (IRIDS)</p>
<br />Filed under: <a href='http://geraksatria.wordpress.com/category/opini/gerakan-mahasiswa-opini/'>Gerakan Mahasiswa</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/category/opini/'>Opini</a> Tagged: <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/bem-fem-ipb/'>bem fem ipb</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/bem-se-bogor/'>bem se bogor</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/gerakan-mahasiswa/'>gerakan mahasiswa</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/jakda-bem-km-ipb/'>jakda bem km ipb</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/sosial-politik/'>sosial politik</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geraksatria.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geraksatria.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geraksatria.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geraksatria.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geraksatria.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geraksatria.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geraksatria.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geraksatria.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geraksatria.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geraksatria.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geraksatria.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geraksatria.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geraksatria.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geraksatria.wordpress.com/365/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geraksatria.wordpress.com&amp;blog=5437776&amp;post=365&amp;subd=geraksatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geraksatria.wordpress.com/2011/07/25/membangun-eskalasi-gerakan-progresif-berkelanjutan-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2c657dd2b846a6242e3840b300e89e0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eghe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun Eskalasi Gerakan: Progresif Berkelanjutan (Bagian 1)</title>
		<link>http://geraksatria.wordpress.com/2011/07/25/membangun-eskalasi-gerakan-progresif-berkelanjutan-bagian-1/</link>
		<comments>http://geraksatria.wordpress.com/2011/07/25/membangun-eskalasi-gerakan-progresif-berkelanjutan-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 10:27:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hendra EG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gerakan Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[bem fem ipb]]></category>
		<category><![CDATA[bem se bogor]]></category>
		<category><![CDATA[gerakan mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[jakda bem km ipb]]></category>
		<category><![CDATA[sosial politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geraksatria.wordpress.com/?p=358</guid>
		<description><![CDATA[Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, eskalasi berarti kenaikan; pertambahan (volume, jumlah, dsb). Penulis mendefinisikan eskalasi gerakan sebagai pertambahan atau peningkatan daya dobrak gerakan mahasiswa dalam mencapai goal akhir gerakan. Gerakan mahasiswa merupakan gerakan moral dan politik nilai. Gerakan ini ada sebagai penyambung lidah antara masyarakat dan pemerintah. Tujuan gerakan mahasiswa adalah terwujudnya konsep keadilan dalam  [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geraksatria.wordpress.com&amp;blog=5437776&amp;post=358&amp;subd=geraksatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, eskalasi berarti kenaikan; pertambahan (volume, jumlah, dsb). Penulis mendefinisikan eskalasi gerakan sebagai pertambahan atau peningkatan <em>daya dobrak</em> gerakan mahasiswa dalam mencapai <em>goal</em> akhir gerakan. Gerakan mahasiswa merupakan gerakan moral dan politik nilai. Gerakan ini ada sebagai penyambung lidah antara masyarakat dan pemerintah. Tujuan gerakan mahasiswa adalah terwujudnya konsep keadilan dalam  proses pembangunan. Keadilan yang dimaksud adalah keadilan dalam konteks kebijakan dan aplikasi di lapangan. Turunan dari tujuan ini adalah bagaimana mahasiswa dapat menempatkan diri sebagai kontrol sosial dalam proses pembangunan tersebut. Disini fungsi pengendalian dijalankan agar setiap hal yang telah direncanakan atau dijanjikan dapat terlaksana sebagaimana mestinya. Gerakan ini yang disebut dengan gerakan vertikal, sebuah gerakan sebagai upaya untuk mengontrol segala kebijakan ataupun aplikasi kebijakan para pemimpin yang sedang berkuasa. Kajian, audiensi, propaganda media dan aksi jalanan bagian dari <em>tools </em>yang digunakan untuk mencapai tujuan ini (kontrol sosial).</p>
<p style="text-align:justify;">Pada sisi lain, kita harus pula dapat memaknai bahwa adanya gerakan kita karena ada masyarakat disana. Kita ada karena jerit tangis rakyat atas ketidakadilan para penguasa. Kita adalah corong masyarakat. Dalam hal ini, kedekatan kita kepada masyarakat menjadi salah satu tolak ukur mendasar atas esensi adanya kita. Inilah  gerakan yang kita pahami sebagai gerakan horizontal mahasiswa. Gerakan ini menjadi bagian yang tidak boleh terlupakan. Selain menjadi kaum “langitan”, mahasiswa juga harus dapat membuktikan bahwa adanya mereka dapat memberikan solusi dan kontribusi nyata atas permasalahan yang ada dalam masyarakat. Masyarakat yang notabenenya adalah kaum yang “tidak tau apa-apa”, yang terpikir oleh mereka hanya bagaimana dapat makan dengan harga yang murah, dapat tidur nyenyak dengan rumah sewajarnya, dan sekolah untuk sekedar mencari kerja. Mereka tidak peduli dengan sepak terjang baik buruknya penguasa. Maka hal yang sangat wajar apabila ditengah diktatorisme Presiden Soeharto, masih banyak masyarakat yang mengaguminya, kerena pada masa pemerintahannya masyarakat merasakan segala sesuatunya menjadi sangat mudah dan murah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> Tentukan Isu yang akan diangkat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bagi sebuah gerakan, isu bagaikan produk pada perusahaan. Isu inilah yang akan dijual ke publik dengan harapan publik dapat membeli (mendukung) isu tersebut. Pemilihan isu yang tepat di awal gerakan menjadi hal yang penting. Isu yang diangkat harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menentukan isu gerakan, diantaranya: <em>Pertama</em>, lakukan observasi atau pengamatan langsung ke lapangan serta mencermati pemberitaan di media massa. Dari sanalah kita dapat memantau perkembangan isu terkini dan dampaknya kepada masyarakat. <em>Kedua,</em> pilihlah salah satu isu yang dianggap prioritas untuk diangkat.  Dalam menentukan prioritas ini, kita harus melihat kebutuhan dari masyarakat. Pilihlah isu yang dianggap sangat penting dan mendesak untuk diselesaikan dan merupakan kebutuhan khalayak ramai. Jika gerakan kita beraliansi dengan gerakan lain, maka memilih prioritas isu yang akan diangkat harus merupakan kesepakatan bersama semua elemen gerakan. <em>Ketiga, </em>kemas isu dengan <em>bungkusan</em> atau bahasa yang menarik dan dipahami masyarakat, sehingga masyarakat menerima dan menyadari kenapa isu tersebut penting dan sangat berpengaruh terhadap kepentingan meraka. Berikut pertimbangan tambahan terkait isu gerakan yang prioritaskan untuk diangkat:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Isu yang diangkat adalah isu yang masih hangat atau aktual dan menjadi perbincangan masyarakat.</li>
<li>Media massa baik cetak ataupun elektronik mengangkat isu tersebut.</li>
<li>Isu yang diangkat merupakan isu yang mudah dipahami, apabila isunya penting namun sulit dipahami, maka menjadi tugas kita untuk mencerdaskan masyarakat dengan bahasa yang mudah mereka pahami.</li>
<li>Masyarakat adalah korban dari isu tersebut. Masyarakat sebagai <em>konstituen</em>  kita adalah pihak yang dirugikan atas permasalah yang berkembang.</li>
<li>Isu tidak mengandung SARA dan GOLONGAN.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Setelah menentukan isu yang dianggap prioritas, gerakan harus konsisten dalam mengangkat isu tersebut. Hindari gerakan pragmatis oportunis. Gerakan pragmatis dan oportunis adalah gerakan yang hanya ingin mudahnya saja, instan dan memanfaatkan peluang tanpa memperdulikan idealisme dan tujuan akhir dari gerakan.</p>
<p style="text-align:justify;"> <strong>Kuasai Informasi terkait Isu</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Diawal, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu perbedaan data, Informasi dan Pengetahuan. Hal ini menjadi penting karena banyak dari kita yang salah kaprah tentang pengertian ketiga hal tersebut, sehingga salah dalam mencari dan mempergunakan ketiga hal tersebut. Hal ini berdampak pada ketajamanan gerakan. Menurut Bergeron (2003 dalam Sangkala 2007), yang dimaksud dengan data adalah bilangan, terkait dengan angka-angka atau atribut-atribut yang bersifat kuantitas, yang berasal dari hasil observasi, eksperimen dan atau kalkulasi. Informasi adalah data di dalam satu konteks tertentu. Informasi merupakan kumpulan data dan terkait denga penjelasan, interpretasi dan dan berhubungan dengan materi lainnya mengenai objek peristiwa-peristiwa atau proses tertentu. Sedangkan pengetahuan adalah informasi yang telah diorganisasi, disintesiskan, diringkas untu meningkatkan pengertian, kesadaran atau pemahaman.</p>
<p style="text-align:justify;"> Davidson dan Voss (2002 dalam sangkala 2007) menambahkan bahwa perbedaan data, informasi dan pengetahuan didasarkan nilai hierarkinya. Informasi merupakan data yang disaring dan dimaknai, demikian pengetahuan adalah data yang disaring dan dimaknai. Data ditambahkan makna untuk menjadi informasi dan menambahkan tujuan ke informasi agar menjadi pengetahuan.</p>
<p style="text-align:justify;"> <em>Information is the most dangerous weapon of all.</em> Informasi diyakini sebagai senjata paling berbahaya yang pernah ada di sepanjang peradaban umat manusia. Peperangan dan percintaan, dua hal yang selalu menyelimuti bumi tidak akan pernah terwujud tanpa diawali dengan pertukaran informasi. Informasi yang terlambat datang, membuat Romeo dan Juliet tidak bisa bersatu di alam fana. Bahkan bual-bualan informasi tentang adanya senjata pemusnah massal, menjadikan irak sebagai bual-bualan Amerika. Benar kata Sun Tzu, “ setiap peperangan selalu didasarkan pada bualan demi bualan”.</p>
<p style="text-align:justify;"> Begitu pula dengan gerakan. Dalam membangun gerakan dibutuhkan informasi-informasi penunjang guna mempertajam pisau analisis dan menguatkan argumentasi terkait pengangkatan isu. Dengan informasi-informasi tersebut kita dapat meyakinkan publik bahwa isu yang kita angkat merupakan benar dan penting untuk segera dicarikan solusinya. Pada dunia gerakan, informasi dapat dibagi menjadi 3, yaitu:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Informasi yang tidak jelas sumbernya tetapi indikator kebenarannya bisa dilihat. Informasi ini dianalogikan seperti “kentut”, tidak jelas siapa sumbernya tetapi baunya ada. Dalam dunia gerakan, informasi ini banya berkeliaran. Informasi ini biasa dikenal dengan istilah rumor. Rumor adalah adalah bagian dari strategi gerakan <em>psy-war</em>, biasanya sangat bersifat politis. Informasi ini didapatkan apabila memiliki jaringan lobby dan informasi.</li>
<li>Informasi dari media massa baik cetak maupun elektronik, seperti: Koran, televise, majalah, internet, dll. Informasi ini merupakan informasi publik yang mudah diakses. Untuk media cetak, kita dapat membuat kliping pemberitaan atau liputan yang relevan terhadap isu yang diangkat. Sehingga ada rekam jejak perkembangan isu dari hari ke hari, sekaligus sebagai bahan bukti penguat argumentasi apabila diperlukan.</li>
<li>Informasi dari sumber terpercaya melalui penelitian-penelitian atau investigasi yang komprehensif. Informasi ini dapat diperoleh dari lembaga-lembaga terkait, seperti LSM, Instansi Pemerintahan, Tokoh, dll. Informasi-informasi dari instansi pemerintah bisa kita dapatkan melalui audiensi. Selain menyampaikan aspirasi atau hasil dari kajian informasi yang sudah kita dapatkan, audiensi juga bisa digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan informasi-informasi dari instansi yang didatangi. Informasi-informasi tersebut digunakan sebagai pengaya atau pembading dari informasi yang sudah ada. Lakukan kunjungan dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh atau pengamat terkait isu. Dari tokoh atau pengamat tersebut kita akan mendapatkan pengetahuan, bukan sekedar informasi. Mereka akan memberikan gambaran penggunaan informasi, sehingga gerakan kita dalam mendongkrak isu akan menjadi lebih tepat.</li>
</ol>
<p><strong>(Berlanjut&#8230;)</strong></p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Sangkala. 2007. <em>Knowledge Management</em>. Jakarta: Raja Grafindo Persada.</p>
<p align="left">Hendra Etri Gunawan</p>
<p align="left">Kordinator BEM se Bogor 2010.</p>
<p align="left">Direktur Eksekutif <em>Institute for Regional Investment and Development Studies</em> (IRIDS)</p>
<br />Filed under: <a href='http://geraksatria.wordpress.com/category/opini/gerakan-mahasiswa-opini/'>Gerakan Mahasiswa</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/category/opini/'>Opini</a> Tagged: <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/bem-fem-ipb/'>bem fem ipb</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/bem-se-bogor/'>bem se bogor</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/gerakan-mahasiswa/'>gerakan mahasiswa</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/jakda-bem-km-ipb/'>jakda bem km ipb</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/sosial-politik/'>sosial politik</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geraksatria.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geraksatria.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geraksatria.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geraksatria.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geraksatria.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geraksatria.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geraksatria.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geraksatria.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geraksatria.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geraksatria.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geraksatria.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geraksatria.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geraksatria.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geraksatria.wordpress.com/358/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geraksatria.wordpress.com&amp;blog=5437776&amp;post=358&amp;subd=geraksatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geraksatria.wordpress.com/2011/07/25/membangun-eskalasi-gerakan-progresif-berkelanjutan-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2c657dd2b846a6242e3840b300e89e0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eghe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan Pendidikan Kabupaten Bogor yang Lebih Baik  ( Sekedar Tidak Membuatnya Seram )</title>
		<link>http://geraksatria.wordpress.com/2011/06/24/peran-mahasiswa-dalam-mewujudkan-pendidikan-kabupaten-bogor-yang-lebih-baik-sekedar-tidak-membuatnya-seram/</link>
		<comments>http://geraksatria.wordpress.com/2011/06/24/peran-mahasiswa-dalam-mewujudkan-pendidikan-kabupaten-bogor-yang-lebih-baik-sekedar-tidak-membuatnya-seram/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jun 2011 02:38:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hendra EG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gerakan Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pembangunan Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[bem fem ipb]]></category>
		<category><![CDATA[bem se bogor]]></category>
		<category><![CDATA[bogor]]></category>
		<category><![CDATA[gerakan mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[jakda bem km ipb]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geraksatria.wordpress.com/?p=355</guid>
		<description><![CDATA[Bagi siswa/siswi  di Kabupaten Bogor, belajar bukan lagi menjadi proses yang menyenangkan. Lantai yang beralaskan tanah, ruang kelas yang sempit, dan gedung yang reyot, menjadi latar drama pendidikan yang harus mereka lewati. Sesekali genting atap gedung terjatuh, mengagetkan seisi kelas. Disaat hujan tiba, gemericik air bukan lagi mereka dengar, tetapi mereka rasa menetes diatas meja-meja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geraksatria.wordpress.com&amp;blog=5437776&amp;post=355&amp;subd=geraksatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" align="center"><strong><span id="more-355"></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="center">Bagi siswa/siswi  di Kabupaten Bogor, belajar bukan lagi menjadi proses yang menyenangkan. Lantai yang beralaskan tanah, ruang kelas yang sempit, dan gedung yang <em>reyot, </em>menjadi latar drama pendidikan yang harus mereka lewati. Sesekali genting atap gedung terjatuh, mengagetkan seisi kelas. Disaat hujan tiba, gemericik air bukan lagi mereka dengar, tetapi mereka rasa menetes diatas meja-meja usang di depan mereka. Inilah fenomena pendidikan Kabupaten Bogor. Seram, mungkin kata yang sedikit mengambarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Data Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bogor tahun 2010 menyebutkan bahwa 1.665 ruang kelas SDN yang tersebar di 1.553 gedung SDN pada 428 desa dan kelurahan di Kabupaten Bogor dalam kondisi rusak berat. Ruang kelas yang bobrok itu merupakan 26 persen dari 8.878 ruang kelas SDN yang ada saat ini. Ironisnya, hampir 70 persen dari jumlah ruang kelas rusak ini dibangun pada era pemerintahan Presiden Soeharto yang hingga kini belum pernah direhabilitasi. Kerusakan ribuan ruang kelas itu diperparah lagi dengan minimnya fasilitas sekolah seperti kursi dan bangku. Kondisi ini menempatkan Kabupaten Bogor sebagai pemilik gedung sekolah rusak terbanyak di Jawa Barat</p>
<p style="text-align:justify;">Ketersedian guru pun menjadi masalah tersendiri bagi pendidikan Kabupaten Bogor. Menurut data kepegawaian Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bogor tahun 2010, kabupaten yang memiliki 40 kecamatan ini, mengalami kekurangan tenaga pengajar sekitar 10.762 tenaga guru PNS. Pada tingkat Sekolah Dasar Negeri (SDN), jumlah kekurangan tenaga guru PNS mencapai 9.121 orang. Jumlah SDN di Kabupaten Bogor sebanyak 1.545, sedangkan jumlah guru yang ada 8.916 orang. Jumlah guru yang mencapai Batas Usia Pensiun (BUP) sebanyak 174 orang. Dari 40 kecamatan di Kabupaten Bogor, sekitar 19 kecamatan yang mengalami kekurangan tenaga guru secara signifikan. Besarnya angka kekurangan tenaga guru PNS ini menempatkan Kabupaten Bogor pada urutan kedua di tingkat Provinsi Jawa Barat.</p>
<p style="text-align:justify;">Rusaknya gedung sekolah, minimnya fasilitas, dan kurangnya tenaga pengajar profesional, jamak menempatkan pendidikan Kabupaten Bogor di ujung tanduk keterpurukan. Seodijarto (2008) berpendapat bahwa pendidikan dasar di Indonesia terutama SD dan SMP seharusnya memenuhi syarat sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Terbuka untuk seluruh usia tujuh sampai dengan lima belas tahun tanpa dipungut biaya karena sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah.</li>
<li>Bermutu, dalam pengertian memenuhi standar nasional baik isi, proses, sarana, dan prasarana pendidikan dan tenaga kependidikannya, pengelolaanya, biayanya, model penilaiannya, kompetensi lulusannya.</li>
<li>Melayani peserta didik sesuai bakat dan kemampuannya dengan mengembangkan program pembelajaran yang terkedali.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong>IPM yang Menipu</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita menganalisis lebih jauh. Tngginya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Bogor pada tahun 2009 yang mencapai 71,63, terpaut 0,01 poin dari IPM Jawa Barat yang sebesar 71,64, lebih karena adanya faktor <em>pendongkrak</em> angka rata-rata. Hemat penulis faktor <em>pendongkrak</em> itu adalah keberadaan beberapa universitas besar atau nasional di Kabupaten Bogor. Keberadaan beberapa universitas tersebut mengundang banyak orang dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu dan tinggal di Kabupaten Bogor. Jumlahnya tidak bisa dikatakan sedikit. Banyak diantara mereka menjadi penduduk tetap dan ber-KTP-kan Kabupaten Bogor. Sehingga dalam penghitungannya, mahasiswa-mahasiswi perantau ini akan “merusak” rataan dan menjadikannya lebih besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedikit mengingatkan, IPM merupakan indikator komposit yang menggabungkan tiga aspek penting, yaitu peningkatan kualitas fisik (kesehatan), intelektualitas (pendidikan), maupun kemampuan ekonominya (daya beli) seluruh komponen masyarakat dalam kurun waktu tertentu. Angka yang digunakan adalah rata-rata.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa fenomena yang penulis jelaskan diatas, sekedar ingin membuka mata pembaca tentang realita pendidikan di Kabupaten Bogor. Kabupaten Bogor sebagai kota satelit, dimana hanya dibutuhkan waktu 2 jam untuk menuju Ibu Kota Jakarta. Selain itu, Kabupaten Bogor merupakan Kabupaten dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tertinggi di Jawa Barat. Di Kabupaten ini pun berdiri tegak kampus pertanian terbesar di Indonesia, yakni IPB. Idealnya dengan berbagai faktor pendukung tersebut, Kabupaten Bogor dapat melakukan pembangunan pendidikan yang lebih baik dan merata. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Padahal pendidikan adalah pelita, penerang masa depan bagi seseorang. Pendidikan akan mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat seseorang. Pada konteks bernegara, pendidikan adalah jalan utama untuk mencapai sebuah pembangunan, karena dengan pendidikan warga masyarakat dapat berperan aktif dalam membangun masyarakat baru yang lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong>Peran Mahasiswa</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Hidup Mahasiswa!”</em>, jargon yang seringkali menggambarkan kehebatan mahasiswa. Mahasiswa sebagai <em>agent of change </em>akan selalu merasa <em>gerah</em> melihat adanya <em>ketidak-beresan</em>. Namun yang menjadi permasalahan, <em>kegerahan </em>itu hanya untuk permasalahan-permasalahan nasional, permasalahan-permasalahan yang menjadi bidik kamera media. Permasalahan- permasalahan daerah seringkali luput dari kepedulian gerakan mahasiswa. Padahal permasalahan-permasalahan daerah adalah permasalahan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Mereka mendengar, merasa dan menyaksikan permasalahan-permasalahan tersebut. Sudah semestinya gerakan mahasiswa dapat menyeimbangkan peran mereka pada skala nasional maupun daerah. <em>Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Gerakan mahasiswa adalah gerakan moral dan politik nilai. Gerakan ini ada sebagai penyambung lidah antara masyarakat dan pemerintah. Tujuan gerakan mahasiswa adalah terwujudnya sebuah konsep keadilan dalam proses pembangunan, keadilan dalam konteks kebijakan dan implementasi dilapangan.  Penulis membagi gerakan mahasiswa menjadi dua, sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Gerakan vertikal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gerakan vertikal adalah gerakan mahasiswa yang berupaya untuk mengontrol (<em>social control</em>) kebijakan-kebijakan pemerintah. Gerakan ini menempatkan mahasiswa sebagai penyeimbang. Penulis menganalogikan gerakan ini dengan upaya untuk menambal kebocoran pada genteng sebuah rumah. Apabila kita menggunakan wadah untuk menampung air hujan agar tidak membasahi seisi rumah, dalam batas waktu tertentu wadah itu tidak akan sanggup menampung air hujan yang menetes, akhirnya <em>luber </em>dan membasahi seisi rumah. Cara yang paling efektif untuk mengatasi kebocoran adalah dengan menambal genteng yang bocor. Solusi langsung tertuju pada sumber permasalahan, genteng yang bocor. Genteng yang bocor adalah kebijakan pemerintah. Setengah dari permasalahan akan selesai apabila kebijakan pemerintah sudah memihak kepentingan masyarakat umum. Tinggal proses pengawalan implementasi kebijakan tsb. Pada konteks permasalahan pendidikan di Kabupaten Bogor, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh gerakan vertikal mahasiswa, diantaranya:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Melakukan audiensi dengan Dinas Pedidikan dan Bappeda Kabupaten Bogor guna menanyakan lebih jauh terkait data-data pendidikan diatas. Melakukan perbandingan dengan keadaan yang semestinya. Keadaan semetinya dapat dianalisis secara sederhana dengan membandingkan faktor-faktor pendukung dengan faktor-faktor penghambat. Selanjutnya, lakukan audiensi dengan Bupati Kabupaten Bogor, ajukan kotrak sosial, buat kesepakatan-kesepakatan antara mahasiswa dan Bupati terkait target-target pembangunan Pendidikan Kabupaten ke depan.</li>
<li>Pembentukan opini publik. Pembentukan opini publik berfungsi sebagai <em>pressure</em> kepada Pemerintah Daerah serta untuk menggerakaan masyarakat agar berpartisipasi aktif dalam pembangunan pendidikan di Kabupaten Bogor.</li>
<li>Memberikan tekanan kepada pemerintah daerah agar mengeluarkan Peraturan Daerah (PERDA) terkait pendidikan. Perda ini menjadi penting karena adanya paying hukum akan memperjelas arah pembangunan pendidikan Kabupaten Bogor ke depan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong>Gerakan Horizontal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">                Gerakan horizontal merupakan gerakan kongkrit mahasiswa. Gerakan horizontal bertujuan untuk memberikan solusi dan kontribusi nyata atas permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Gerakan ini adalah gerakan penyeimbang dari gerakan vertikal. Publik akan mempertanyakan segala tuntutan perbaikan pendidikan dari mahasiswa, jika tuntutan perbaikan itu tidak dibarengi dengan kerja nyata mahasiswa untuk menjadi solusi atas permasalahan pendidikan yang ada. Gerakan horizontal peduli pendidikan Kabupaten Bogor yang dapat dilakukan, diantaranya:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Program <em>Community Development</em> dan <em>Community Service</em>.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Program <em>Community Development</em> merupakan program pembinaan berkelanjutan atau jangka panjang. Program ini dapat dilaksanakan melalui kerja sama dengan pihak-pihak yang peduli terhadap pendidikan, baik negeri maupun swasta. Program harus terarah dan memiliki target perbaikan, baik pada kualitas maupun kuantitas. Program sejenis sudah banyak berkembang, diantaranya program Indonesia Mengajar dan Indonesia Menyala oleh Yayasan Indonesia Mengajar. <em>Bagaimana dengan kontribusi mahasiswa?</em></p>
<p style="text-align:justify;">Program <em>Community Service</em> atau yg lebih dikenal dengan bakti sosial adalah program jangka pendek dan bersifat sementara. Program ini hanya sebagai solusi jangka pendek. Program ini dapat dilakukan diantaranya dengan memberikan sumbangan berupa pakaian sekolah layak pakai, pemberian fasilitas belajar mengajar atau pembangunan gedung perpustakaan.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Seminar dan <em>Award</em> Pendidikan</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Seminar atau sejenisnya dilakukan dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Materi seminar dapat ditujukan untuk menambah wawasan guru-guru di Kabupaten Bogor, atau memberikan motivasi belajar pada siswa-siswinya. <em>Award</em> pendidikan bertujuan untuk memotivasi semua pihak baik pelaku pendidikan Kabupaten Bogor atau masyarakat umum untuk lebih peduli terhadap pendidikan Kabupaten Bogor. Adanya Award Pendidikan akan berbanding lurus dan saling menguatkan upaya pembentukan  opini publik yang dijelaskan diawal.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Membangun daerah, membangun Indonesia kita”</em>. Jika setiap kita dapat berpikir proporsional untuk membangun daerah, membenahi permasalahan bangsa dari permasalahan-permasalahan terdekat kita, niscaya masalah bangsa ini pun satu per satu akan terselesaikan. Permasalahan pendidikan bukanlah permasalahan biasa. Sumber Daya Manusia adalah mesin penggerak pembangunan. Rendahnya kualitas SDM berbanding lurus dengan rendahnya percepatan pembangunan yang ada. Peningkatan kualitas SDM hanya mungkin dilakukan dengan meningkatkan kualitas pendidikan. Dimanapun posisi kita dan apapun gerak kita, berpikirlah untuk menjadi solusi. Begitupun dengan keberadaan mahasiswa. Mahasiswa adalah solusi, lantang dijalan, menebar manfaat dilapang. Sedikit solusi, semoga menjadikan sekolah tidak lagi menjadi tempat yang menyeramkan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Hendra Etri Gunawan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penulis adalah Direktur Eksekutif <em>Institute for Regional Investment and Development Studies</em> (IRIDS) dan kordinator BEM se Bogor 2010.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahan Bacaan:</p>
<ol start="1">
<li style="text-align:justify;">Soedijarto. 2008. <em>Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita</em>. Jakarta: Kompas.</li>
<li style="text-align:justify;">Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor 2010</li>
</ol>
<br />Filed under: <a href='http://geraksatria.wordpress.com/category/opini/gerakan-mahasiswa-opini/'>Gerakan Mahasiswa</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/category/opini/'>Opini</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/category/opini/pembangunan-daerah/'>Pembangunan Daerah</a> Tagged: <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/bem-fem-ipb/'>bem fem ipb</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/bem-se-bogor/'>bem se bogor</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/bogor/'>bogor</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/gerakan-mahasiswa/'>gerakan mahasiswa</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/jakda-bem-km-ipb/'>jakda bem km ipb</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/pendidikan/'>pendidikan</a>, <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/sosial-politik/'>sosial politik</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geraksatria.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geraksatria.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geraksatria.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geraksatria.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geraksatria.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geraksatria.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geraksatria.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geraksatria.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geraksatria.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geraksatria.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geraksatria.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geraksatria.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geraksatria.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geraksatria.wordpress.com/355/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geraksatria.wordpress.com&amp;blog=5437776&amp;post=355&amp;subd=geraksatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geraksatria.wordpress.com/2011/06/24/peran-mahasiswa-dalam-mewujudkan-pendidikan-kabupaten-bogor-yang-lebih-baik-sekedar-tidak-membuatnya-seram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2c657dd2b846a6242e3840b300e89e0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eghe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>INSTITUTE FOR REGIONAL INVESTMENT AND DEVELOPMENT STUDIES (IRIDS): Bersama Membangun Daerah</title>
		<link>http://geraksatria.wordpress.com/2011/04/04/institute-for-regional-investment-and-development-studies-irids-bersama-membangun-daerah/</link>
		<comments>http://geraksatria.wordpress.com/2011/04/04/institute-for-regional-investment-and-development-studies-irids-bersama-membangun-daerah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Apr 2011 19:11:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hendra EG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembangunan Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[irids]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geraksatria.wordpress.com/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Gejolak reformasi yang disertai dengan gelombang tuntutan ketidakpuasan masyarakat di berbagai daerah mengenai pola hubungan antara pusat dan daerah yang dirasakan tidak adil, semakin mempercepat pelaksanaan kebijakan otonomi daerah, dan bahkan dengan skala yang sangat luas yang diletakkan diatas landasan konstitusional dan operasional yang lebih radikal. Kebijakan nasional mengenai otonomi daerah dan pemerintahan daerah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geraksatria.wordpress.com&amp;blog=5437776&amp;post=321&amp;subd=geraksatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em> </em>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Gejolak reformasi yang disertai dengan gelombang tuntutan ketidakpuasan masyarakat di berbagai daerah mengenai pola hubungan antara pusat dan daerah yang dirasakan tidak adil, semakin mempercepat pelaksanaan kebijakan otonomi daerah, dan bahkan dengan skala yang sangat luas yang diletakkan diatas landasan konstitusional dan operasional yang lebih radikal. Kebijakan nasional mengenai otonomi daerah dan pemerintahan daerah ini, telah dituangkan dalam bentuk UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang dilengkapi oleh UU No.25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.</p>
<p>Pada prinsipnya, kebijakan otonomi daerah bukan sekedar mendesentralisasikan kewenangan-kewenangan yang selama ini tersentralisasi di tangan pemerintah pusat. Kebijakan otonomi daerah juga perlu diwujudkan atas dasar keprakarsaan dari bawah untuk mendorong tumbuhnya kemandirian pemerintahan daerah sendiri sebagai faktor yang menentukan keberhasilan kebijakan otonomi daerah itu. Dalam kultur masyarakat kita yang paternalistik, kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah itu tidak akan berhasil apabila tidak dibarengi dengan upaya sadar untuk membangun keprakarsaan dan kemandirian daerah sendiri.</p>
<p>Ditengah berbagai harapan dalam pelaksanaan otonomi daerah di atas, ada beberapa faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan tersebut. Rendahnya kualtias sumber daya manusia (SDM) daerah menjadi alasan utama yang menghambat optimalisasi otonomi daerah dalam upaya mensejahterkan masyarakat selama ini. Maka dari itu, diperlukan upaya untuk dapat mengawal berjalannya proses otonomi daerah, khususnya dalam mempersiapkan dan meningkatkan kualitas para pelaku (sumber daya manusia) pembangunan daerah, agar siap dalam melakukan pembangunan daerah sesuai dengan potensi masing-masing daerah.</p>
<p>Berawal dari keinginan yang mendalam untuk mengambil bagian guna menyempurnakan harapan dari pelaksanaan otonomi daerah tsb, kami tergerak untuk membangun Lembaga Swadaya Masyarakat<strong> INSTITUTE FOR REGIONAL INVESTMENT AND DEVELOPMENT STUDIES (IRIDS).</strong> Mengambil prinsip <em>Social Enterpreuner</em>, lembaga yang bertujuan sosial ini, menempati ranah kosong perhatian pembangunan selama ini. Pembangunan daerah sering kali menjadi anak tiri dari pembangunan-pembangunan di pusat. Padahal, sederhana pikir kami, daerah yang maju akan terakumulasi menjadi kemajuan suatu Bangsa, dengan satu syarat, rasa nasionalisme dan NKRI tetap menjadi yang utama.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>ANALISIS SWOT</strong></p>
<p>Analisa SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisa ini didasarkan pada hubungan atau interaksi antara unsur-unsur internal, yaitu kekuatan dan kelemahan, terhadap unsur-unsur eksternal yaitu peluang dan ancaman. Adapun analisis SWOT singkat untuk lembaga kami adalah sebagai beikut:</p>
<p><strong>A. </strong><strong>Kekuatan <em>(strength)</em></strong></p>
<p>a.    Sumber Daya Manusia pengurus yang merupakan mantan aktivis kampus, memiliki cita-cita dan idealisme yang tinggi, serta ditopang dengan kualitas kelimuan dari para senior yang merupakan dosen dibidangnya, akan menjadi kekuatan utama dalam menjalankan bisnis yang berbasis pengetahuan ini.</p>
<p>b.    Bimbingan dan jaringan Dewan Penasehat dan Dewan Pembimbing, sedikit banyak akan memberikan peluang lebih untuk lembaga ini dapat berkembang pesat ke depan.</p>
<p><strong>B. </strong><strong>Kelemahan<em> (weaknesses)</em></strong></p>
<p>a.    Bidang keilmuan pengurus yang belum spesifik pada keilmuan pembangunan daerah, akan menghambat gerak lembaga, khususnya dalam melaksanakan kajian-kajian ilmiah pembangunan dan investasi daerah.</p>
<p>b.    Pangsa pasar yang spesifik dan sulit ditembus tanpa adanya jaringan khusus yang memadai, akan menghambat penjualan jasa pada tahap-tahap awal pendirian.</p>
<p><strong>C. </strong><strong>Kesempatan <em>(opportunity) </em></strong></p>
<p>a.    Isu otonomi daerah akan terus bergulir menjadi “bola panas”, dan isu ini pun telah memiliki payung hukum berupa UU. Siap atau tidak siap, setiap daerah harus mau belajar untuk menjadi daerah yang otonom.</p>
<p>b.    Akan terus ada daerah-daerah pemekaran yang baru guna lebih memeratakan pembangunan. Disanalah jasa kami dibutuhkan.</p>
<p>c.    Lembaga penyedia jasa yang berbasis pengetahuan akan terus dibutuhkan seiring dengan perkembangan keilmuan dan sistem pemerintahan, khususnya dalam ruang lingkup kajian investasi dan pembangunan daerah.</p>
<p><strong>D. </strong><strong>Ancaman <em>(threat)</em></strong></p>
<p>Pandangan negatif beberapa masyarakat terhadap gerak LSM, menjadi kendala tersendiri, khususnya dalam melaksanakan program kerja yang langsung menyentuh ke masyarakat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>RENCANA PELAKSANAAN IDE</strong></p>
<p><strong>A. </strong><strong>Diskripsi Lembaga &amp; Produk (Jasa)</strong></p>
<p><strong> Visi</strong> : Terwujudnya pembangunan wilayah yang berkelanjutan dan berkualitas, menuju otonomi daerah yang amanah, berkeadilan dan mensejahterakan masyarakat. <strong>Misi </strong><strong>:</strong><strong> </strong>Meningkatkan komunikasi dan kerjasama antar pelaku pembangunan wilayah, melalui penyelenggaraan forum-forum diskusi/lokakarya/seminar dan publikasi; Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman terhadap berbagai aspek dalam pembangunan wilayah melalui penelitian dan analisis kebijakan; Meningkatkan kapasitas para pelaku pembangunan wilayah, khususnya di tingkat lokal melalui pelatihan, pendampingan dan pendekatan-pendekatan <em>local capacity building</em> lainnya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>B. </strong><strong>Produk (Jasa) / Bidang Kegiatan</strong></p>
<p><strong> </strong>Sesuai dengan visi misi kami, kami merumuskan beberapa bidang kegiatan yang harapannya dapat menjadi produk jasa berbasis pengetahuan yang kami tawarkan ke pasar, antara lain:</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) s<em>tackholder </em>Pembangunan Derah.</strong></p>
<p>Produk jasa yang kami tawarkan antara lain: Pelatihan, Seminar, Workshop, Bimbingan Teknis, Asistensi, Outbound, Event Organizer, dan laian-lain, yang berhungan dengan kapasitas kami sebagai lembaga kajian investasi dan pembangunan wilayah (daerah)</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Pemberdayaan Masyarakat</strong></p>
<p>Selain berupaya dalam meningkatkan kualitas SDM pembangunan daerah melalui <em>local capacity building, </em>kami pun melaksanakan program-program kegiatan pemberdayaan masyarakat. Program ini akan kami laksanakan melalui kerja sama dengan berbagai pihak yang peduli terhadap pembangunan daerah, baik pemerintah ataupun pihak swasta dalam dan luar negri. Program-program tersebut antara lain: Pemberdayaan Sosial Budaya, Pemberdayaan Ekonomi, Pemberdayaan Politik Pemerintahan,dan lain-lain.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Media Publikasi </strong></p>
<p>Adanya Media publikasi, selain positif dalam hal mempublikasi nama dan eksistensi lembaga, juga dapat dijadikan produk tersendiri dipasaran. Adapun kami merencanakan untuk membuat beberapa media publikasi, antara lain: CD interaktif, Audio visual (Video), Buku-buku dan majalah, Jurnal, Media informasi public dan lain-lain</p>
<p><strong>C. </strong><strong>Rancangan Pemasaran</strong></p>
<p>Pengakuan publik terhadap adanya suatu lembaga menjadi sangat penting. Pengakuan itu merupakan awal dari kepercayaan publik tehadap lembaga ke depan. Oleh karena itu, diawal kami akan melaksanakan Grand Launching berupa seminar. Kegiatan ini akan melibatkan dan bekerja sama dengan berbagai <em>stackholder</em>, mulai dari pemerintah, swasta dan akademis.</p>
<p>Adapun analisis sederhana bauran pemasaran kami adalah sebagai berikut: <strong>Produk (Product), </strong><em>(sudah dijelaskan pada penjelasan produk/jasa)</em><strong>. Harga (Price), </strong>harga akan selalu kami sesuaikan dengan <em>budget </em>pelanggan, tanpa mengurangi standar-standar pelayanan prima.<strong>Tempat Pelayanan (Place), </strong>tempat pelayanan akan kami sesuaikan dengan permintaan dan <em>budget </em>pelanggan. Walaupun demikian, terdapat standar tempat pelayanan yang diharapkan dapat memberikan lingkungan yang kondusif, khususnya produk-produk jasa pelayanan pelathan dan sejenisnya. <strong>Promosi (Promotion), </strong>promosi kami lakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung, kami akan mengajukan proposal produk /jasa kepada pelanggan, dan kegiatan lainnya. Dalam promosi ini, kami menekankan jaringan yang telah terbina. Secara tidak langsung melalui publikasi-publikasi hasil kajian di official web lembaga dan media umum lainnya (Koran, Radio, TV, dll). <strong>SDM (People), </strong>pengetahuan yang mendalam terhadap keilmuan pembangunan dan investasi wilayah (daerah) menjadi sangat penting. Adapun diawal kami akan bekerja sama dengan para akademis dibidang pembangunan daerah dan kedepannya akan ada program pendidikan untuk para pengurus lembaga. <strong>Sarana Fisik (Physical Evidence)</strong>, tempat pelatihan yang nyaman dan kondusif serta disesuaikan dengan keinginan pelangan, menjadi nilai lebih tersendiri. <strong>Proses (Process), </strong>materi  pelatihan dan kebutuhan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan dan disajikan secara menarik, sehingga proses belajarpun menjadi menyenangkan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>D. </strong><strong>Manajemen &amp; organisasi </strong></p>
<p><strong>STRUKTUR ORGANISASI</strong></p>
<p><strong>Dewan Pembina    : </strong>Dr. Drs. H. M. A. B. Dibyoseputro, Akt. MBM; Syamsudin, Ak. MSi</p>
<p><strong>Dewan Penasehat :</strong> Deden Wahyudin, SE; Bachtiar Firdaus, ST. MPP.</p>
<p><strong>Dewan Pengurus     :</strong></p>
<p>Direktur Eksekutif                           : Hendra Etri Gunawan</p>
<p>Sekretaris Eksekutif                        : Ahmad Kamaludin Afif</p>
<p>Bendahara                                       : M. Agung Satryo Utomo, SE. MM.</p>
<p>Ka.Dept Kemitraan &amp; Pelatihan      : Teguh Endaryanto, SP. M.Si</p>
<p>Ka.Dept Media dan Informasi         : Muhamad Iman Damara</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>E. </strong><strong>Struktur Modal, Keuangan &amp; Rencana Pendanaan </strong></p>
<p>Modal awal lembaga, kami dapatkan dari bantuan Dewan Pembina. Dana ini digunakan untuk membuat surat-surat guna legalitas lembaga seperti: Akte Notaris dan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Depdagri, serta keperluan operasional lainnya. Selain itu, modal awal digunakan untuk pendanaan awal <em>grand launching</em>. Event ini diharapkan surplus dan dijadikan pendanaan lembaga kedepannya. Rencana pendanaan kami dapatkan dari berbagai program yg kami laksanakan dengan bekerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintah dan swasta, dalam dan luar negri. Selain itu, kami pun mencari donator dari berbagai pihak yang peduli terhadap visi dan misi yang kami tuju, baik secara pribadi maupun organisai.</p>
<p><strong>PENUTUP</strong></p>
<p><em>Bersama membangun daerah</em>. Melalui <em>tag-line </em>tersebut kami membangun ikat demi ikat kontribusi. Walaupun terdapat sisi komersial dari lembaga ini, semua itu tidak lebih dari batas guna menghidupi lembaga, sehingga dapat memberikan kontribusi yg lebih besar dan berkelanjutan.</p>
<br />Filed under: <a href='http://geraksatria.wordpress.com/category/opini/pembangunan-daerah/'>Pembangunan Daerah</a> Tagged: <a href='http://geraksatria.wordpress.com/tag/irids/'>irids</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geraksatria.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geraksatria.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geraksatria.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geraksatria.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geraksatria.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geraksatria.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geraksatria.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geraksatria.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geraksatria.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geraksatria.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geraksatria.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geraksatria.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geraksatria.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geraksatria.wordpress.com/321/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geraksatria.wordpress.com&amp;blog=5437776&amp;post=321&amp;subd=geraksatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geraksatria.wordpress.com/2011/04/04/institute-for-regional-investment-and-development-studies-irids-bersama-membangun-daerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2c657dd2b846a6242e3840b300e89e0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eghe</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
