Hendra EG "BAMaker" #BangkitMaju #BAMovement

Inspirator #BangkitMaju yang sarat pengalaman lapangan. Lantang berbicara, sebagai perpaduan akademisi dan praktisi. Menginspirasi dari kisah nyata kehidupan pribadinya. Hendra EG "BAMaker" siap membangunkan anda untuk BANGKIT dan MAJU menjadi lebih baik. Follow @HendraEG

Membangun Kedewasaan Berdemokrasi

Pemilihan Raya telah berlalu. Para pemimpin mahasiswa, baik skala fakultas atau universitas telah terpilih. Semuanya terjadi dan menjadi kenangan tersendiri. Inilah demokrasi. Demokrasi ala mahasiswa.

Demokrasi berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan cratos/cratein yang berarti pemerintahan. Sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Demokrasi ala mahasiswa adalah pemerintahan dari mahasiswa, oleh mahasiswa serta untuk mahasiswa, almamater dan bangsa. Pemerintahan yang terbentuk harapannya dapat memberikan kontribusi-kontribusi terbaiknya, bukan hanya untuk mahasiswa melainkan untuk almamater dan bangsa.

Pada dunia demokrasi, setiap pemerannya adalah pedagang . Pedagang yang mencoba menjual barang dagangannya. Barang dagangannya dijual dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan, dibungkus dengan kemasan yang menarik dan dipromosikan dengan media promosi yang masif. Barang dagangan itu lebih lanjut diberi nama visi misi. Visi misi inilah yang kemudian dibeli rakyat ( red: mahasiswa ). Bagi siapa yang dapat menjual visi misinya ke lebih banyak orang maka ia akan memenangkan pertandingan. Pertandingan guna dapat menempatkan dirinya pada posisi yang dapat memberikan kesempatan untuk beramal dan berkontribusi lebih.

Setiap pedagang memiliki segmentasi tersendiri dalam menjual visi misinya. Mereka dapat menawarkan ke para pembeli yang lebih dekat kepada dirinya, dengan harapan orang-orang terdekat tsb dapat membantu mereka mempromosikan produk yang dijual. Berbagai cara pun tercipta disana, baik yang dibenarkan ataupun yang tidak. Cara yang tidak dibenarkan inilah yang disebut dengan black campaign. Cara ini lebih menekankan kepada keburukan barang dagangan lawan, bahkan terkadang menjadi fitnah bagi pedagang lawan, bukan dengan memaparkan kelebihan barang dagangan yang dijual sendiri. Tenggang waktu untuk mempromosikan visi misi inilah yang disebut masa kampanye. Hingga tiba pada waktu pedagang dapat melihat hasil promosinya yang disebut dengan hari pencoblosan. Hari inilah pembeli dapat membeli visi misi yang dapat mewakili kebutuhannya dengan cara mencoblos di TPS-TPS terdekat.

Inilah demokrasi, setiap pemimpin berhak menjual visi misinya. Namun ada beberapa catatan yang harus dperhatikan, diantaranya: pertama, setelah terpilih, maka sang pemimpin wajib untuk melaksanakan semua yang telah dijanjikan dalam visi misinya tersebut dengan seoptimal mungkin. Kedua, tersurat ataupun tersirat, setiap pemimpin yang mencoba menjual visi misinya merupakan perwakilan dari kelompoknya masing-masing. Kelompok disini dapat diartikan sebagai orang-orang yang berkumpul dan memiliki pandangan serta visi yang sama mengenai suatu kondisi. Perlu digaris bawahi, dalam kehidupan ini tidak ada orang yang netral atau independen. Disaat suatu kelompok menyatakan posisinya netral atau independen, maka kelompok tsb telah memposisikan dirinya dalam suatu posisi. Posisi inilah yang membuat kelompok tsb tidak lagi netral, karena dengan posisi tsb kelompok yang menyatakan dirinya netral atau independen memiliki sikap tersendiri terhadap suatu situasi dan mempunyai visi tersendiri dalam penanganannya. Hal ini sama saja dengan konsep berkelompok, terdapat kesamaan sikap dan visi terhadap suatu situasi. Namun yang menjadi catatan adalah disaat sang pemimpin terpilih, maka dia bukan hanya dipilih oleh kelompoknya, tapi mahasiswa yang lebih luas. Maka ia harus bisa mengayomi seluruh mahasiswa dalam bingkai visi misi yang telah dijanjikan dengan cara merangkul berbagai kalangan. Ketiga, bagi sang pemimpin yang belum berkesempatan untuk memimpin maka dia dapat bersama-sama dengan pemimpin yang terpilih mengusung visi misi yang laku dipasaran. Karena pada dasarnya visi misi yang dijual adalah visi misi kebaikan. Hanya saja, dengan sudut pandang yang berbeda dan dilaksanakan dengan cara yang berbeda. Langkah selanjutnya adalah membangun keterbukaan dan titik temu terhadap beberapa pandangan. Jika kita memahami konsep ini, maka tidak ada lagi konsep oposisi yang mencoba untuk menghambat kinerja pemimpin yang terpilih. Oposisi dilakukan guna saling menasehati dalam kebaikan, bukan saling menghina dalam perjalanan.

Inilah demokrasi kita, demokrasi yang dewasa. Demokrasi bukan pembenaran dalam upaya perebutan kekuasaan, melainkan upaya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Penulis mengajak seluruh komponen baik di skala fakultas atau universitas, untuk bersama-sama menekankan keterbukaan, mencari titik temu, dan objektivitas dalam setiap permasalahan. Mari kita buktikan bahwa keberagaman memang indah. Keberagaman bukan hanya dalam masalah fisik, tapi ide, pemikiran, serta inovasi. Karena ide, pemikiran, dan inovasilah yang membuat kehidupan ini menjadi berwarna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 31/12/2008 by in Opini and tagged , , .

FOLLOW ME

KATEGORI

ARSIP

BLOG STATS

  • 14,209 hits
%d blogger menyukai ini: