Hendra EG "BAMaker" #BangkitMaju #BAMovement

Inspirator #BangkitMaju yang sarat pengalaman lapangan. Lantang berbicara, sebagai perpaduan akademisi dan praktisi. Menginspirasi dari kisah nyata kehidupan pribadinya. Hendra EG "BAMaker" siap membangunkan anda untuk BANGKIT dan MAJU menjadi lebih baik. Follow @HendraEG

Sahabat Ksatria (SaKA): Membangun Tim dalam Paradigma.

Inilah gerak kami, gerak yang didasari keinginan untuk memberi, bukan menerima karena Allah lah yang Maha Kaya. Inilah gerak kami, gerak yang didasari keinginan untuk peduli, bukan sekedar kata tapi tertata dalam kerja nyata. Inilah gerak kami, gerak bersama orang-orang yang kami cintai, mengukir prestasi, merajut kenangan, mengusung pelangi perdaban. Teruntuk FEM ku, IPB ku, Bangsa ku, dan Allah-pemilik segala urusanku

Setengah perjalanan telah kami lalui. Setetes demi setetes tinta pengalaman telah tertoreh di buku sejarah kepemimpinan fakultas ini. Setiap detiknya adalah berharga. Bermula dari mencari titik temu, kami beranjak. Kami adalah keluarga, kami adalah sahabat, kami adalah tim.

Jika kita berbicara tim, maka kita akan berbicara masalah pengelolaan manusia yang unik. Dalam bahasa Inggris, team berarti together everyone achieve more, one for all and all for one. Dengan bekerja sama, setiap orang dapat memperoleh hasil yang lebih baik daripada dikerjakannya sendiri. Dengan pemahaman seperti inilah Sahabat Ksatria memahami konsep kepemimpinan dalam perspektif membangun sebuah tim. Konsep membangun sebuah tim maknanya terletak pada sebuah kata: sinergi. Sinergi berasal dari bahasa Yunani yaitu sunergos, artinya bekerja bersama. Sunergos dari akar kata sun (bersama) dan ergon (bekerja). Secara jelas konsep sinergi didefinisikan sebagai interaksi dari dua individu atau lebih sehingga menghasilkan kombinasi kekuatan yang melebihi penjumlahan tenaga seluruh individu secara sendiri-sendiri.

Fungsi kepengurusan dalam organisasi dalam suatu tim pemimpin adalah membangun sebuah tim yang dapat menghasilkan sinergi. Apa yang kita bicarakan ini berkaitan dengan misteri atau keajaiban yang sulit dipahami yang sering disebut dengan sinkronisasi (synchronicity). Artinya suatu momen ketika keseluruhan tim bergerak sebagai satu kesatuan, semua energi tim berdenyut dalam kesatuan, dalam kesearahan, dan harmonis mengalir tak terbendung ke arah sasaran atau tujuan bersama. Dari konsep inilah kemudian lahir suatu kekuatan baru yang disebut social capital yang harus dimiliki oleh semua bentuk organisasi yang terdiri dari kumpulan orang dan bukan kumpulan modal.

Berangkat dari dasar pemikiran di atas, maka konsep kepemimpinan SaKA dalam manajemen diri adalah pendekatan baru tentang bagaimana setiap anggota tim dapat mengoptimalkan potensi diri dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain –terutama dengan individu sesama anggota tim. Sehingga mereka mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi terciptanya sinergi untuk mencapai sasaran tim bersama-sama.

Untuk membangun kepemimpinan berdasarkan tim (teamwork-based leadership) yang efektif, diperlukan lima hal pokok (ingredients) yang dapat dijadikan acuan untuk menilai atau mengevaluasi keragaan (performance) sebuah tim yaitu VOICE:

1. Vision (visi atau sasaran yang disepakati oleh seluruh anggota tim atau lebih, dikatakan sebagai shared vision). Setiap anggota tim mengetahui dan memahami secara jelas sasaran yang ingin dicapai timnya. Bayangkan bila sebuah permainan sepakbola tanpa ada gawang. Ini akan membuat seluruh pemain frustrasi dan bergerak tanpa tujuan. Sebagai sebuah tim, kami memiliki visi tuk dapat peduli, melayani dan professional dalam bekerja. Sehingga adanya BEM dapat menjadi solusi dari permasalahan-permasalahan yang ada dan nyata kontribusinya.

2. Optimizing (mengoptimalkan kemampuan individu dalam tim). Ini berarti melengkapi setiap anggota tim dengan kemampuan untuk mengenali potensi dirinya, kemampuan untuk mendayagunakannya, serta kemampuan untuk belajar guna meningkatkan potensi dirinya secara terus menerus. Pendeknya, kepemimpinan berarti menginspirasi, memotivasi, dan menumbuhkan antusiasme kepada diri sendiri atau sesama anggota tim untuk mengoptimalkan kemampuannya.

3. Integrity. Setiap anggota tim harus mampu menunjukkan integritas sehingga tercipta rasa saling percaya, saling menghargai, dan saling ketergantungan dalam tim, yang pada gilirannya dapat menciptakan sinergi dan social capital untuk mencapai sasaran secara lebih cepat dan efisien. Integritas adalah sifat yang dapat dipercaya, selalu menepati janji, jujur, memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas atau terhadap apapun yang telah disepakati.

4. Communication. Dalam hal ini komunikasi berarti interaksi antarindividu anggota tim sehingga tercipta sinergi kelompok. Setiap anggota tim harus dapat mengerti dan memahami anggota lainnya. Melakukan ”komunikasi empatetik atau ”berusaha mengerti sebelum dimengerti.” Kunci dasar kemenangan sebuah tim adalah pada kelancaran komunikasi di antara anggota tim. Komunikasi berarti menciptakan irama dan getaran harmonisasi yang melingkupi seluruh anggota tim, mengalir dan membawa seluruh anggota tim ke arah, tujuan, dan sasaran bersama.

5. Empowering. Ini berarti bahwa setiap anggota tim harus memberdayakan satu sama lain, saling mengisi, saling memberi inspirasi, dan saling membangun antusiasme di antara mereka. Seorang pemimpin dalam tim harus memiliki kemampuan untuk memberdayakan anggota timnya (lifetime improvement, finding the best, networking).

Dengan kelima unsur pokok tersebut dapat tercipta kepemimpinan yang didasarkan tim: ”teamwork-based leadership”. Dengan demikian, suatu organisasi yang mengembangkan ”konsep super leader” yang sangat ditentukan oleh kharisma pemimpinnya di era informasi ini sudah kurang tepat, karena dia bisa mematikan kreativitas. Apa yang dapat kita tarik di atas dalam suatu kepengurusan organisasi kemasyarakatan sebaiknya dibangun dalam ”teamwork-based leadership”, suatu konsep ”super team”.

Akhir kata, membangun tim adalah hal yang kompleks. Tidak sekedar kita tergabung dalam organisasi yang sama, lalu kita dikatakan sebagai tim. Tim adalah kolaborasi ikatan hati dan pikiran. Tetap terbuka, mencari titik temu, dan objektifikasi dalam menghadapai dinamika tim. Kita adalah Super Tim bukan Super Man. Hidup Mahasiswa!!! FEM Dahsyat!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 07/07/2009 by in HR Management, Opini and tagged , , , , .

FOLLOW ME

KATEGORI

ARSIP

BLOG STATS

  • 14,209 hits
%d blogger menyukai ini: