Hendra EG "BAMaker" #BangkitMaju #BAMovement

Inspirator #BangkitMaju yang sarat pengalaman lapangan. Lantang berbicara, sebagai perpaduan akademisi dan praktisi. Menginspirasi dari kisah nyata kehidupan pribadinya. Hendra EG "BAMaker" siap membangunkan anda untuk BANGKIT dan MAJU menjadi lebih baik. Follow @HendraEG

Membangun Kebersatuan dalam Paradigma

FEM bersatu tak bisa dikalahkan…

Entah sejak kapan jargon ini mulai bergema di Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Jargon yang menjadi icon kebersatuan Fakultas yang baru 8 tahun ini berdiri. Masalah kebersatuan memang menjadi masalah tersendiri di Fakultas yang kini berisikan 4 Departemen. Tidak dapat dipungkiri, ditengah nama FEM yang kian hari kian memiliki tmpat, masalah kebersatuan masih menjadi PR bersama untuk diselesaikan.

Jika kita berbicara masalah kebersatuan maka (dalam konteks tim) kita akan berbicara masalah pengelolaan manusia yang unik. Dalam bahasa Inggris, team berarti together everyone achieve more, one for all and all for one. Dengan bekerja sama, setiap orang dapat memperoleh hasil yang lebih baik daripada dikerjakannya sendiri. Konsep membangun sebuah tim maknanya terletak pada sebuah kata: sinergi. Sinergi berasal dari bahasa Yunani yaitu sunergos, artinya bekerja bersama. Sunergos dari akar kata sun (bersama) dan ergon (bekerja). Secara jelas konsep sinergi didefinisikan sebagai interaksi dari dua individu atau lebih sehingga menghasilkan kombinasi kekuatan yang melebihi penjumlahan tenaga seluruh individu secara sendiri-sendiri.

Disinilah fungsi Lembaga Kemahasiswaan (LK) menjadi sangat penting. Fungsi LK (dalam konteks tim) adalah bagaimana melakukan sebuah sinergisasi antar LK dalam setiap kegiatan dan paradigma berpikirnya. Apa yang kita bicarakan ini berkaitan dengan misteri atau keajaiban yang sulit dipahami yang sering disebut dengan sinkronisasi (synchronicity). Artinya suatu momen ketika keseluruhan LK bergerak sebagai satu kesatuan, semua energi potensi LK berdenyut dalam kesatuan, dalam kesearahan, dan harmonis mengalir tak terbendung ke arah sasaran atau tujuan bersama.

Berangkat dari dasar pemikiran di atas, maka LK dalam konteks individu dalam manajemen tim adalah pendekatan baru tentang bagaimana setiap LK dapat mengoptimalkan potensi diri dan kemampuan berinteraksi dengan LK yang lain. Sehingga mereka mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi terciptanya sinergi untuk mencapai sasaran atau tujuan bersama.

Untuk membangun kebersatuan (dalam konteks tim) yang efektif, diperlukan lima hal pokok (ingredients) atau nilai-nilai yang dapat dijadikan acuan untuk mengevaluasi keragaan (performance) sebuah tim, yaitu yang disingkat VOICE:

1. Vision (visi atau sasaran yang disepakati oleh seluruh LK atau lebih, dikatakan sebagai shared vision). Setiap LK mengetahui dan memahami secara jelas sasaran bersama yang ingin dicapai. Bayangkan bila sebuah permainan sepak bola tanpa ada gawang. Ini akan membuat seluruh pemain bergerak tanpa tujuan dan berantakan.

2. Optimizing (mengoptimalkan kemampuan setiap LK). Ini berarti melengkapi setiap LK dengan kemampuan untuk mengenali potensi dirinya, kemampuan untuk mendayagunakannya, serta kemampuan untuk belajar guna meningkatkan potensi dirinya secara terus menerus sesuai dengan kompetensi inti (core competence) setiap LK.

3. Integrity. Setiap LK harus mampu menunjukkan integritas sehingga tercipta rasa saling percaya, saling menghargai, dan saling ketergantungan dalam tim, yang pada gilirannya dapat menciptakan sinergi dan social capital untuk mencapai sasaran secara lebih cepat dan efisien. Integritas adalah sifat yang dapat dipercaya, selalu menepati janji, jujur, memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas atau terhadap apapun yang telah disepakati.

4. Communication. Dalam hal ini komunikasi berarti interaksi antar LK sehingga tercipta sinergi kelompok. Setiap LK harus dapat mengerti dan memahami LK lainnya. Melakukan ”komunikasi empatetik atau ”berusaha mengerti sebelum dimengerti.” Kunci dasar kemenangan sebuah tim adalah pada kelancaran komunikasi di antara anggota tim. Komunikasi berarti menciptakan irama dan getaran harmonisasi yang melingkupi seluruh anggota tim, mengalir dan membawa seluruh anggota tim ke arah, tujuan, dan sasaran bersama.

5. Empowering. Ini berarti bahwa setiap LK harus memberdayakan satu sama lain, saling mengisi, saling memberi inspirasi, dan saling membangun antusiasme di antara mereka.

Dengan kelima unsur pokok diatas diharapkan dapat tercipta kebersatuan yang selama ini kita idam-idamkan. Kita mulakan dari LK yang notabene merupakan pemimpin dari basis masanya masing-masing. Jikalau kebijakan dari pimpinannya sudah searah, kebersatuan ditingkat mahasiswa hanyalah tinggal menunggu waktu. Dan FEM bersatu dengan segala potensi terbaik yang Allah anugerahkan kepada Fakultas ini akan terealisasi dengan nyata. Semuanya butuh proses dan kedewasaan untuk melewatinya. Mungkin bukan tahun ini, atau tahun depan. Tapi yakinnlah, saat-saat itu akan datang. FEM bersatu tak bisa dikalahkan. FEM Dahsyat!!!!..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11/08/2009 by in HR Management, Opini and tagged , , , .

FOLLOW ME

KATEGORI

ARSIP

BLOG STATS

  • 14,209 hits
%d blogger menyukai ini: