Hendra EG "BAMaker" #BangkitMaju #BAMovement

Inspirator #BangkitMaju yang sarat pengalaman lapangan. Lantang berbicara, sebagai perpaduan akademisi dan praktisi. Menginspirasi dari kisah nyata kehidupan pribadinya. Hendra EG "BAMaker" siap membangunkan anda untuk BANGKIT dan MAJU menjadi lebih baik. Follow @HendraEG

Pertahankan Warisan Budaya Kita: Antara simbol dan usaha

Belum lama ini penulis melakukan audiensi dengan pihak KPK terkait dengan isu pemberantasan korupsi yang dewasa ini marak diperbincangkan. Pertemuan itu dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai universitas di seluruh Indonesia. Pada tulisan ini, penulis tidak bermaksud untuk menguraikan hasil pertemuan dan isu-isu terkait dengan pemberantasan korupsi, tapi ada sebuah statement MC yang cukup menggelitik penulis. Di akhir acara MC memanggil kordinator BEM seluruh Indonesia untuk menyerahkan dukungannya secara simbolis kepada KPK dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Hanya saja MC tidak menggunakan pilihan kata yang tepat, dia menggunakan kata “simbolisme” untuk menggambarkan pemberian dukungan secara “simbolis”. Dua kata yang sangat berbeda pemahamannya. Simbolisme lebih kepada pengertian –isme (faham) dan simbolis lebih kepada proses. Yang menggelitik penulis adalah kata “simbolisme” yang secara sederhana penulis artikan sebagai faham yang terlalu berkiblat kepada simbol-simbol belaka atau ceremonial.

Pada saat yang bersamaan, masyarakat Indonesia sedang berbahagia karena batik yang selama ini diklaim oleh Malaysia akhirnya dikembalikan lagi ke Indonesia. Tanggal 2 oktober kemarin UNESCO resmi menyatakan batik sebagai warisan budaya Indonesia. Pernyataan resmi ini berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Sontak dalam kurun waktu 3 hari berturut-turut tertanggal 1-3 oktober 2009, masyarakat Indonesia secara beramai-ramai memakai baju batik. Sampai ada pimpinan disuatu daerah di Indonesia mewajibkan pegawainya untuk memakai batik dan menghimbau pengusaha swasta di daerahnya agar karyawannya memakai batik pula. Hari itu penuh dengan batik. Kiri kanan kita dapat melihat batik. Namun yang menjadi pertanyaan adalah seberapa lama kita dapat melihat pemandangan tersebut? Apakah hanya sekedar simbol sementara?

Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya.

Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini. Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.

Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.

Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Jadi kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.

Selain batik yang hari ini telah dikembalikan, dari data yang penulis peroleh lebih dari 30 warisan budaya kita yang telah diklaim pihak lain. Warisan budaya tersebut antara lain:

  1. Batik dari Jawa diklaim oleh Adidas
  2. Naskah Kuno dari Riau diklaim oleh Pemerintah Malaysia
  3. Naskah Kuno dari Sumatera Barat diklaim oleh Pemerintah Malaysia
  4. Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan diklaim oleh Pemerintah Malaysia
  5. Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara diklaim oleh Pemerintah Malaysia
  6. Rendang dari Sumatera Barat diklaim oleh Oknum WN Malaysia
  7. Sambal Bajak dari Jawa Tengah diklaim oleh Oknum WN Belanda
  8. Sambal Petai dari Riau oleh diklaim Oknum WN Belanda
  9. Sambal Nanas dari Riau diklaim oleh Oknum WN Belanda
  10. Tempe dari Jawa oleh Beberapa Perusahaan Asing
  11. Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
  12. Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
  13. Lagu Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
  14. Lagu Injit-injit Semut dari Jambi oleh Pemerintah Malaysia
  15. Alat Musik Gamelan dari Jawa oleh Pemerintah Malaysia
  16. Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
  17. Tari Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
  18. Lagu Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
  19. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
  20. Kursi Taman Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Perancis
  21. Pigura Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Inggris
  22. Motif Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia
  23. Desain Kerajinan Perak Desak Suwarti dari Bali oleh Oknum WN Amerika
  24. Produk Berbahan Rempah-rempah dan Tanaman Obat Asli Indonesia oleh Shiseido Co Ltd
  25. Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia
  26. Kopi Gayo dari Aceh oleh perusahaan multinasional (MNC) Belanda
  27. Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan oleh perusahaan Jepang
  28. Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia
  29. Kain Ulos oleh Malaysia
  30. Alat Musik Angklung oleh Pemerintah Malaysia
  31. Lagu Jali-Jali oleh Pemerintah Malaysia
  32. Tari Pendet dari Bali oleh Pemerintah Malaysia

Sumber: http://www.lintasberita.com

Tidak dapat dipungkiri, seringkali kali kita bergerak disaat budaya kita telah diklaim orang lain. Saat itulah baru rasa memiliki budaya sendiri itu timbul. Tapi bukan berarti kita terlambat untuk memulai. Mari bersama-sama kita mencintai budaya kita dengan cara melestarikannya. Hari batik FEM yang telah dilaksanakan perdana pada tanggal 2 september 2009 merupakan sebuah upaya untuk membangun kebanggaan terhadap budaya sendiri. Acara yang nantinya akan melibatkan semua civitas FEM bukan hanya mahasiswa ini, akan dilaksanakan kembali pada tanggal 7 oktober 2009 dan akan rutin setiap bulan sekali ke depannya. Mari kita buktikan bersama bahwa kita bukanlah penganut faham “simbolisme” yang hanya berkutat pada hal-hal yang bersifat simbol, tidak bertahan lama, dan sekedar ceremonial belaka, setelah itu batik tinggallah tumpukan pakaian yang ditempatkan pada tumpukan baju yang paling dalam dan bawah (red: tidak pernah digunakan). Kita buktikan kita memang bangga dengan Budaya Indonesia.

Hidup Bangsa dan Budaya Indonesia!!

2 comments on “Pertahankan Warisan Budaya Kita: Antara simbol dan usaha

  1. Agus Suhanto
    08/10/2009

    salam,
    senang bertemu Anda melalui blog ini sy Agus Suhanto, posting yang oke🙂
    lam kenal yaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 07/10/2009 by in Gerakan Mahasiswa, Opini and tagged , , , .

FOLLOW ME

KATEGORI

ARSIP

BLOG STATS

  • 14,209 hits
%d blogger menyukai ini: