Hendra EG "BAMaker" #BangkitMaju #BAMovement

Inspirator #BangkitMaju yang sarat pengalaman lapangan. Lantang berbicara, sebagai perpaduan akademisi dan praktisi. Menginspirasi dari kisah nyata kehidupan pribadinya. Hendra EG "BAMaker" siap membangunkan anda untuk BANGKIT dan MAJU menjadi lebih baik. Follow @HendraEG

Revitalisasi Peran Strategis Mahasiswa: IPB Social Politic Center Jilid 2

Mahasiswa adalah fenomena. Mahasiswa menjadi kelas sosial yang spesial, lantaran di satu sisi, ia dipercaya kelak, sebagai kelas pengganti bagi kelompok elite sosial politik yang kini berkuasa. Pada sisi yang lain, mitos modern telah mengelompokkannya sebagai kelompok elit dalam hal intelektualitas dan moralitas di tengah-tengah laju kehidupan masyarakat dan bangsanya. Itu sebabnya, narasi besar perubahan sosial politik di negara berkembang, seperti Indonesia, selalu memandang dan menampilkan kelas sosial mahasiswa sebagai salah satu aktor pelaku yang menentukan dalam narasi perubahan sosial politik.

Hal ini pula yang mendasari keputusan musyawarah nasional BEM Suluruh Indonesia tahun 2009 di Solo. BEM SI memberanikan diri sebagai oposisi permanen pemerintah. Keputusan ini bukan tanpa pertimbangan yang matang, karena menjadi oposisi bukan sekedar pernyataan, tapi bagaimana mahasiswa bersedia menjadi garda terdepan dalam mengawal dan mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Disanalah mahasiswa sangat berperan sebagai kontrol sosial pemerintah dalam melaksanakan pembangunan.

Mahasiswa sebagai kontrol sosial tersebut dapat dipahami bahwa mahasiswa sebagai suatu kelompok masyarakat yang melakukan kontrol secara terencana maupun tidak dengan tujuan untuk mendidik, mengajak (paksaan/tidak) guna mematuhi kaidah dan nilai sosial tertentu yang dianggap benar. Secara umum tujuan kontrol sosial yang dilakukan mahasiswa biasanya adalah untuk mencapai keserasian antara kestabilan dengan perubahan dalam masyarakat dan kedamaian melalui keserasian antara kepastian dengan keadilan/kesebandingan.

Pada prakteknya, tidaklah mudah bagi mahasiswa untuk melaksanakan kontrol sosial tersebut. Hal ini disebabkan mahasiswa sering dipandang sebelah mata oleh pihak penguasa. Mahasiswa sering lebih banyak dilihat dari segi lahiriah sebagai anak muda yang baru lahir dan tidak tahu persoalan. Maka dari itu, perlu terus adanya upaya yang sistematik guna meningkatkan posisi tawar mahasiswa dihadapan pemerintah sebagai penguasa.

Pada ruang lingkup IPB, IPB telah memulai itu dengan mendirikan IPB Social Politic Center atau yang biasa dikenal dengan ISPC. Disanalah mahasiswa IPB mencoba untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah melalui kajian-kajian yang ilmiah. ISPC didirikan dengan harapan dapat menjadi support system 4 kementrian BEM KM IPB yang sudah ada, khususnya dalam hal pusat data.

Pada perkembangannya, ISPC sebagai pusat data saja tidak cukup, ditambah lagi keputusan Munas BEM Seluruh Indonesia tahun 2009 di Solo, yang BEM KM IPB masuk ke dalamnya, mewajibkan kita harus lebih siap dengan sistem yang lebih komprensif. Maka dari itu, masih perlu kiranya sistem kelengkapan-kelengkapan penunjang ISPC lainnya, yakni Tim Garda Aksi dan Media. Hal ini menjadi penting di tengah upaya mahasiswa untuk meningkatkan posisi tawar kedepannya.

Tim Garda Aksi merupakan pusat kaderisasi para aktivis mahasiswa pergerakan yang memiliki nilai dan pemahaman yang sama tentang peran strategisnya dalam upaya mengontrol dan mengkritisi kebijakan pemerintah. Disinilah loyalitas dan totalitas itu dibentuk. Tim ini harus siap sedia disaat mereka dibutuhkan untuk turun kejalan dalam upaya memperjuangankan kepentingan rakyat, kapanpun dan kemanapun. Tim ini juga bertugas untuk membuat aksi-aksi jalanan sedemikian, sehingga aksi-aksi jalanan yang dilaksanakan dapat menarik media dengan kreativitas-kreativitas yang ditampilkan. Kreativitas yang positif bukan tindakan-tindakan yang anarkis. Dengan begitu, bagi para mahasiswa yang memiliki bakat dibidang seni kreativ dapat memberikan sumbangsih kontribusinya dalam mendisain aksi-aksi kreativ ini.

Adapun Tim Media adalah tim dibawah kordinasi langsung ISPC yang berfungsi sebagai alat atau sarana propaganda atas isu-isu yang digelontarkan. Hal ini menjadi penting karena pergerakan mahasiswa tidak lepas dalam upaya membangun opini publik, disinilah media berperan. Bagaimana publik dapat menerima bahkan mendukung segala kebijakan strategis mahasiswa dalam upaya sebagai oposisi permanen mahasiswa. Gerakan media ini dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. Secara langsung dapat dilakukan dengan membuat ISPC Media Center di daerah-daerah straegis di IPB. Secara tidak langsung dengan membangun jaringan ke media massa, baik lokal maupun nasional.

Banyak alasan yang akan menyertai perubahan. Begitu pula dengan usaha kita dalam hal memperbaiki sistem pergerakan mahasiswa IPB. Mengutip perkataan Soe Hok Gie, “ lebih baik terasingkan dari pada menyerah pada kemunafikan’. Ini merupakan sebuah manifestasi dari sebuah kepercayaan yang selama ini Gie yakini. Sebuah kepercayaan yang membuat dia terasingkan di negaranya sendiri. Bagaimana dengan kita?. Hari ini kita hanya dituntut untuk memulai. Penulis yakin jikalau tidak berjalan optimal hari ini, masih ada hari esok. Biarlah generasi esok yang hanya tinggal memasang batubata-batubata selanjutnya. Batubata-batubata yang akan membangun peradaban Indonesia kedepannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 04/01/2010 by in Gerakan Mahasiswa, Opini and tagged , , , , .

FOLLOW ME

KATEGORI

ARSIP

BLOG STATS

  • 14,209 hits
%d blogger menyukai ini: