Hendra EG "BAMaker" #BangkitMaju #BAMovement

Inspirator #BangkitMaju yang sarat pengalaman lapangan. Lantang berbicara, sebagai perpaduan akademisi dan praktisi. Menginspirasi dari kisah nyata kehidupan pribadinya. Hendra EG "BAMaker" siap membangunkan anda untuk BANGKIT dan MAJU menjadi lebih baik. Follow @HendraEG

Membangun Kembali Eksistensi Aliansi Strategis BEM Se-Bogor (Refleksi Setengah Perjalanan, Maret-Mei 2010)

Oleh

Hendra Etri Gunawan*

Membangun sebuah aliansi strategis adalah kebutuhan pergerakan mahasiswa hari ini. Aliansi strategis adalah hubungan formal antara dua atau lebih kelompok yang bertujuan untuk mencapai tujuan bersama . Aliansi strategis pada umumnya terjadi pada rentang waktu tertentu. Dengan melakukan aliansi, maka pihak-pihak yang terkait haruslah menghasilkan sesuatu yang lebih baik melalui keinginan untuk saling berbagi banyak hal yang tidak dimiliki oleh kelompok organisasi yang lain. Rekanan dalam aliansi dapat memberikan peran dalam aliansi strategis dengan sumberdaya seperti jaringan, pengetahuan, ataupun keahlian lain yang membuat pergerakan mahasiswa dapat berjalan lebih massif dan efektif. Dengan aliansi maka terjadi kooperasi atau kolaborasi dengan tujuan muncul sinergi. Aliansi strategis juga berkaitan dengan misteri tim yang sering disebut dengan sinkronisasi (synchronicity). Sinkronisasi (synchronicity) merupakan suatu momen ketika keseluruhan organisasi atau kelompok bergerak sebagai satu kesatuan, semua energi kelompok berdenyut dalam kesatuan, dalam kesearahan, dan harmonis mengalir tak terbendung ke arah sasaran atau tujuan bersama.

BEM Se Bogor sebagai sebuah aliansi, terbentuk pada tanggal 28 Mei 2006. Pembentukan aliansi ini dimaksudkan untuk menghimpun simpul-simpul kekuatan mahasiswa dari masing-masing kampus (baca: Badan Eksekutif Mahasiswa) agar bersatu dan memiliki kekuatan serta posisi tawar yang lebih baik. Selain itu, BEM se Bogor dapat dijadikan sebagai wadah berbagi antar sesama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se Kota dan Kabupaten Bogor, baik dalam hal keorganisasian, program kerja, ataupun kepanitiaan. Saat ini BEM se Bogor beranggotakan 15 Kampus, diantaranya: IPB, IPB Diploma, STIE Pandu Madania, STEI TAZKIA, UNIDA, UIKA, AKA, AKA TELKOM, STTIF, STAI LAROIBA, STIH Darma Andigha, STIE Kesatuan, Poltek Kent, Poltekes Bandung, dan ST MIPA.

Berbagai dinamika sering terjadi, layaknya sebagai sebuah aliansi yang berasal dari berbagai ideologi dan latar belakang. Setiap kampus memiliki tujuan dan pemikiran tersendiri. Empat tahun sejak berdirinya, ada beberapa kampus yang sudah menyatakan diri keluar karena permasalah tersebut, tapi tuk periode kepengurusan ini dapat ditarik kembali. Inilah uniknya, perbedaan ideologi dan latar belakang itulah yang membuat kami berwarna. Satu hal yang pasti, tetap open mind, mencari titik temu dan putuskan segala sesuatunya dengan penuh keterbukaan.

Genap 3 bulan telah berlalu sejak tepilihnya penulis sebagai kordinator BEM se Bogor. Pemilihan dengan cara yang cukup berbeda, yaitu dengan musyawarah. Sebelum-sebelumnya pemilihan selalu dilakukan dengan sistem voting. Berbekal visi Inklusif, Progresif, dan Profesional, kami membangun nilai, dasar dan arah gerakan BEM se Bogor ke depan. Pada periode kepengurusan ini kami mencoba untuk membuat platform BEM se Bogor dan fokus isu kedepannya. Platform ini akan menjadi landasan gerak bagi BEM se Bogor kedepan, agar setiap kebijakan yang ada tidak hanya subjektifitas dari masing-masing anggota. Adapun Fokus isu dibuat sebagai sebuah upaya membuat targetan kontribusi nyata yang akan dihasilkan dan benar-benar terasa keberadaannya di tengah masyarakat. Selain itu, agar gerakan BEM se Bogor tidak selalu taktis dan terkesan pragmatis.

Pada awal bulan kepengurusan kami, gerakan mahasiswa dikejutkan dengan kerusuhan di Makasar. Kerusuhan ini berawal dari penyerangan oknum polisi yang berakibat dengan adanya bentrokan antara mahasiswa dengan polisi dan masyarakat sekitar. Banyak penafsiran yang berkembang, mulai dari adanya dendam pribadi oknum polisi yang melakukan penyerangan, sampai dengan dugaan adanya usaha provokatif dari pihak yang tidak bertanggungjawab guna memperkeruh keadaan. Terlepas dari kontroversi yang ada, kasus tersebut sedikit banyak memberikan stigma negatif masyarakat kepada gerakan mahasiswa. Kesan mahasiswa sebagai kaum intelektual, berubah menjadi pembuat keonaran dan kerusuhan. Hal ini pun berefek terhadap gerakan yang kami bangun. Belum apa-apa, sudah dinilai buruk duluan.

Permasalahan ini adalah permasalahan yang penting untuk diselesaikan terlebih dahulu. Stigma adalah kacamata orang melihat. Apapun yang akan kita kerjakan, jika kacamata yang digunakan masyarakat negatif, maka akan selalu terlihat negatif. Dengan demikian, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengganti kacamata itu menjadi kacamata yang lebih positif. Maka dari itu dibulan pertama kepengurusan kami, kami kembali menggembor-gemborkan keseimbangan 2 gerakan mahasiswa. Gerakan vertikal, dalam hal ini mengkritisi kebijakan pemerintah, serta gerakan horizontal, gerakan yang langsung terjun dan menjadi solusi atas permasalahan masyarakat. Singkat cerita dibuatlah sayap sosial BEM se Bogor, yang kami sebut dengan Mahasiswa Tanggap Bencana (Mahagana) BEM se Bogor.

Mahagana bekerja secara progresif. Beberapa kegiatan penggalangan dana guna membantu korban bencana digalakkan. Mulai dari longsor Cigudeg sampai longsor Cianjur. Penggalangan dana dilakukan di masing-masing wilayah kampus dan dihari terakhir penggalangan dilakukan terpusat di Tugu Kujang dan beberapa titik strategis  Bogor lainnya. Adanya Mahagana BEM se Bogor seakan memberikan gambaran lain dari gerakan mahasiswa. Gerakan Mahasiswa juga dapat membumi dan menjadi solusi langsung atas permasalahan masyarakat. Semakin mendekat ke masyarakat. Hingga saat ini, Mahagana BEM se Bogor terus dibekali dengan keahlian-keahlian yang diperlukan dalam rangka turun lapang ke lokasi bencana, salah satunya adalah dengan pelatihan Healing Spiritual Therapy. Therapy ini diharapkan dapat mengobati trauma dan masalah psikologis korban bencana lainnya. Karena permasalahan korban bencana dilapangan bukan saja masalah kebutuhan dana, sembako, dll tapi juga kebutuhan akan ketenangan jiwa dan masalah psikologis lain pasca bencana terjadi.

Pada sisi lain, gerakan vertical  pun terus kami galakkan. Peningkatan posisi tawar, hasil dari memenangkan hati media dan masyarakat dengan adanya Mahagana, membuat posisi tawar BEM se Bogor semakin terlihat. Beberapa kali BEM se Bogor diundang siaran disalah satu radio di Bogor, baik mengupas masalah lokal ataupun nasional. Pendidikan dan Kemiskinan Kabupaten Bogor serta masalah Kemacetan Kota Bogor menjadi isu yang kami angkat pada 3 bulan kepengurusan kami ini. Aksi malam renungan pendidikan, Harkitnas, dialog on air di radio, dan audiensi langsung ke pihak terkait menjadi cara kami dalam berkontribusi. Hasil kajian kami yang terkait masalah kemacetan Kota Bogor pun telah kami ajukan ke pihak Pansus Transportasi DPRD Kota Bogor yang sampai saat ini masih bekerja.

Tiga bulan lagi tersisa pada periode kepengurusan kami (Juni-Agustus). Fitrah rasanya jika kejenuhan itu mulai membuat selimut tebal yang merayu kami tuk tertidur nyaman. Sampai dengan sisa waktu ini habis, mungkin tidak banyak yang dapat kami perbuat. Besar harapan kami, yang sedikit itu dapat memberikan manfaat untuk masyarakat Bogor. Demi Bogor yang lebih baik dan bermartabat.

*Kordinator BEM se Bogor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 17/06/2010 by in Gerakan Mahasiswa, Opini and tagged , , , , , .

FOLLOW ME

KATEGORI

ARSIP

BLOG STATS

  • 14,209 hits
%d blogger menyukai ini: