Hendra EG "BAMaker" #BangkitMaju #BAMovement

Inspirator #BangkitMaju yang sarat pengalaman lapangan. Lantang berbicara, sebagai perpaduan akademisi dan praktisi. Menginspirasi dari kisah nyata kehidupan pribadinya. Hendra EG "BAMaker" siap membangunkan anda untuk BANGKIT dan MAJU menjadi lebih baik. Follow @HendraEG

Peran Media dalam Gerakan Mahasiswa (Membumikan Gerakan Mahasiswa bagian 2)

 

 

aksi pelantikan sby-boed
aksi

 

oleh

Hendra Etri Gunawan
(Kordinator BEM se Bogor; Menteri Kebijakan Daerah BEM KM IPB)

Media bagaikan pelita di tengah kegelapan masyarakat. Ketika masyarakat tidak mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, media merupakan salah satu faktor utama yang dapat memperkuat, memperlemah, dan bahkan membentuk norma baru di masyarakat. Malcolm X bahkan melihat media lebih jauh lagi sebagai entiti terkuat di muka bumi. Menurutnya media mempunyai kekuatan untuk membuat apa yang benar menjadi salah, dan yang salah menjadi benar karena media dapat mengontrol pikiran massa. Media sebagai kekuatan strategis dalam menyebarkan informasi merupakan salah satu otoritas sosial yang berpengaruh dalam membentuk sikap dan norma sosial suatu masyarakat. Media massa bisa menyuguhkan teladan budaya yang bijak untuk mengubah perilaku masyarakat.

Tidak aneh jika calon kepala daearah atau pemimpin negeri ini bersedia merogoh kocek mereka dalam-dalam hanya untuk menokohkan diri mereka di media. Mereka bagaikan artis yang setiap saatnya muncul diberbagai media yang ada, baik media masa ataupun elektronik. Karena alasan itu pula, banyak partai politik pemburu suara (vote seeking) atau yang biasa dikenal dengan tipe catch-all party, menarik tokoh dan artis terkenal guna bergabung dan menjadi bagian dari partai. Dengan demikian mereka akan mendapatkan suara tanpa harus banyak mngeluarkan biaya untuk melakukan pencitraan partai.

Karena pengaruh media pula, publik melihat Sukarno sebagai seorang pemimpin besar Indonesia. Lewat radio pada saat itu, Sukarno berhasil membangun citra pemimpin kharismatik di masyarakat Indonesia, walaupun sebagian masyarakat mengetahui bahwa dalam prakteknya, Sukarno adalah pemimpin yang otoriter. Namun sekali lagi, peran media telah menggeser opini publik terhadap citra Sukarno dari seorang pemimpin diktator menjadi pemimpin yang kharismatik dan dibanggakan oleh masyarakat Indonesia.

Dengan peran tersebut, media massa menjadi sebuah agen dalam membentuk citra di masyarakat. Pemberitaan di media massa sangat terkait dengan pembentukan citra, karena pada dasarnya komunikasi itu proses interaksi sosial, yang digunakan untuk menyusun makna yang membentuk citra tersendiri mengenai dunia dan bertukar citra melalui simbol-simbol (Nimmo, 1999). Dalam konteks tersebut, media memainkan peranan penting untuk konstruksi realitas sosial.

Peran media yang begitu besar seharusnya dapat dilirik para aktivis gerakan mahasiswa dalam melakukan gerakan mereka. Gerakan mahasiswa sebagai sebuah konstruksi realitas sosial ditengah masyarakat, mengharuskan gerakan ini dapat membangun opini masyarakat terhadap suatu isu. Sehingga dapat memberikan rasa resah yang sama di tengah masyarakat dan pada akhirnya dapat bersama-sama masyarakat melakukan gerakan yang massif. Gerakan Mahasiswa angkatan 66 dan Reformasi 98 sebagai salah satu contoh dimana gerakan mahasiswa dapat membentuk opini yang sama bahwa Sukarno dan Suharto adalah pemimpin yang harus diturunkan pada waktu itu. Mahasiswa dan masayarakat bersatu padu. Memiliki keresahan dan musuh yang sama, yaitu rezim orde lama dan baru.

IPB Social Politic Center sebagai sebuah sistem gerakan mahasiswa masih harus banyak belajar tentang pemanfaatan media dalam membangun gerakannya. Kita menjadi orang-orang yang “sibuk sendiri”, padahal banyak mahasiswa umum tidak mengetahui apa yang sudah, sedang dan yang akan kita lakukan. Mereka asik dengan dunia mereka dan kita asik dengan dunia kita. Mahasiswa umum yang notabene nya stackholder terdekat dengan kita saja tidak tahu apa yang kita lakukan, bagaimana dengan masyarakat umum. Kita seakan hanya mengatasnamakan masyarakat disetiap gerakan kita.

Selain itu, kita juga biasa berpikir “sekuler” dalam gerakan mahasiswa. Secara sengaja atau tidak, kita memisahkan gerakan vertical dan horizontal mahasiswa. Dua gerakan yang seharusnya saling melengkapi, diopinikan berbeda oleh kita sendiri. Bagi mahasiswa yang lebih suka dengan kegiatan-kegiatan sosial, mereka asik dengan dunia mereka. Bagi yang suka dengan dunia seni, mereka asik dengan kehidupan mereka. Dan kita yang biasa dipanggil aktivis jalanan,asik sendiri dengan orasi-orasi lapangan kita. Padahal kita adalah satu, mahasiswa.

Mari bersama-sama kita memanfaatkan media untuk membangun opini gerakan mahasiswa yang komprehensif (vertikal dan horizontal). Dengan memanfaatkan media kita tidak menjadi aktivis mahasiswa “autis” yang asik dengan dirinya sendiri. Kita resahkan semua, seperti dahsyatnya keresahan kita atas nasib bangsa ini kedepannya. Kita senang dengan kontribusi kita, ajaklah orang lain merasakan apa yang kita rasakan. Dan yakinlah Indonesia lebih baik dan bermartabat bukan hanya sekerdar impian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 17/06/2010 by in Gerakan Mahasiswa, Opini and tagged , , , , .

FOLLOW ME

KATEGORI

ARSIP

BLOG STATS

  • 14,209 hits
%d blogger menyukai ini: