Hendra EG "BAMaker" #BangkitMaju #BAMovement

Inspirator #BangkitMaju yang sarat pengalaman lapangan. Lantang berbicara, sebagai perpaduan akademisi dan praktisi. Menginspirasi dari kisah nyata kehidupan pribadinya. Hendra EG "BAMaker" siap membangunkan anda untuk BANGKIT dan MAJU menjadi lebih baik. Follow @HendraEG

Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan Pendidikan Kabupaten Bogor yang Lebih Baik ( Sekedar Tidak Membuatnya Seram )

Bagi siswa/siswi  di Kabupaten Bogor, belajar bukan lagi menjadi proses yang menyenangkan. Lantai yang beralaskan tanah, ruang kelas yang sempit, dan gedung yang reyot, menjadi latar drama pendidikan yang harus mereka lewati. Sesekali genting atap gedung terjatuh, mengagetkan seisi kelas. Disaat hujan tiba, gemericik air bukan lagi mereka dengar, tetapi mereka rasa menetes diatas meja-meja usang di depan mereka. Inilah fenomena pendidikan Kabupaten Bogor. Seram, mungkin kata yang sedikit mengambarkan.

Data Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bogor tahun 2010 menyebutkan bahwa 1.665 ruang kelas SDN yang tersebar di 1.553 gedung SDN pada 428 desa dan kelurahan di Kabupaten Bogor dalam kondisi rusak berat. Ruang kelas yang bobrok itu merupakan 26 persen dari 8.878 ruang kelas SDN yang ada saat ini. Ironisnya, hampir 70 persen dari jumlah ruang kelas rusak ini dibangun pada era pemerintahan Presiden Soeharto yang hingga kini belum pernah direhabilitasi. Kerusakan ribuan ruang kelas itu diperparah lagi dengan minimnya fasilitas sekolah seperti kursi dan bangku. Kondisi ini menempatkan Kabupaten Bogor sebagai pemilik gedung sekolah rusak terbanyak di Jawa Barat

Ketersedian guru pun menjadi masalah tersendiri bagi pendidikan Kabupaten Bogor. Menurut data kepegawaian Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bogor tahun 2010, kabupaten yang memiliki 40 kecamatan ini, mengalami kekurangan tenaga pengajar sekitar 10.762 tenaga guru PNS. Pada tingkat Sekolah Dasar Negeri (SDN), jumlah kekurangan tenaga guru PNS mencapai 9.121 orang. Jumlah SDN di Kabupaten Bogor sebanyak 1.545, sedangkan jumlah guru yang ada 8.916 orang. Jumlah guru yang mencapai Batas Usia Pensiun (BUP) sebanyak 174 orang. Dari 40 kecamatan di Kabupaten Bogor, sekitar 19 kecamatan yang mengalami kekurangan tenaga guru secara signifikan. Besarnya angka kekurangan tenaga guru PNS ini menempatkan Kabupaten Bogor pada urutan kedua di tingkat Provinsi Jawa Barat.

Rusaknya gedung sekolah, minimnya fasilitas, dan kurangnya tenaga pengajar profesional, jamak menempatkan pendidikan Kabupaten Bogor di ujung tanduk keterpurukan. Seodijarto (2008) berpendapat bahwa pendidikan dasar di Indonesia terutama SD dan SMP seharusnya memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. Terbuka untuk seluruh usia tujuh sampai dengan lima belas tahun tanpa dipungut biaya karena sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah.
  2. Bermutu, dalam pengertian memenuhi standar nasional baik isi, proses, sarana, dan prasarana pendidikan dan tenaga kependidikannya, pengelolaanya, biayanya, model penilaiannya, kompetensi lulusannya.
  3. Melayani peserta didik sesuai bakat dan kemampuannya dengan mengembangkan program pembelajaran yang terkedali.

 IPM yang Menipu

Jika kita menganalisis lebih jauh. Tngginya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Bogor pada tahun 2009 yang mencapai 71,63, terpaut 0,01 poin dari IPM Jawa Barat yang sebesar 71,64, lebih karena adanya faktor pendongkrak angka rata-rata. Hemat penulis faktor pendongkrak itu adalah keberadaan beberapa universitas besar atau nasional di Kabupaten Bogor. Keberadaan beberapa universitas tersebut mengundang banyak orang dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu dan tinggal di Kabupaten Bogor. Jumlahnya tidak bisa dikatakan sedikit. Banyak diantara mereka menjadi penduduk tetap dan ber-KTP-kan Kabupaten Bogor. Sehingga dalam penghitungannya, mahasiswa-mahasiswi perantau ini akan “merusak” rataan dan menjadikannya lebih besar.

Sedikit mengingatkan, IPM merupakan indikator komposit yang menggabungkan tiga aspek penting, yaitu peningkatan kualitas fisik (kesehatan), intelektualitas (pendidikan), maupun kemampuan ekonominya (daya beli) seluruh komponen masyarakat dalam kurun waktu tertentu. Angka yang digunakan adalah rata-rata.

Beberapa fenomena yang penulis jelaskan diatas, sekedar ingin membuka mata pembaca tentang realita pendidikan di Kabupaten Bogor. Kabupaten Bogor sebagai kota satelit, dimana hanya dibutuhkan waktu 2 jam untuk menuju Ibu Kota Jakarta. Selain itu, Kabupaten Bogor merupakan Kabupaten dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tertinggi di Jawa Barat. Di Kabupaten ini pun berdiri tegak kampus pertanian terbesar di Indonesia, yakni IPB. Idealnya dengan berbagai faktor pendukung tersebut, Kabupaten Bogor dapat melakukan pembangunan pendidikan yang lebih baik dan merata. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Padahal pendidikan adalah pelita, penerang masa depan bagi seseorang. Pendidikan akan mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat seseorang. Pada konteks bernegara, pendidikan adalah jalan utama untuk mencapai sebuah pembangunan, karena dengan pendidikan warga masyarakat dapat berperan aktif dalam membangun masyarakat baru yang lebih baik.

 Peran Mahasiswa

“Hidup Mahasiswa!”, jargon yang seringkali menggambarkan kehebatan mahasiswa. Mahasiswa sebagai agent of change akan selalu merasa gerah melihat adanya ketidak-beresan. Namun yang menjadi permasalahan, kegerahan itu hanya untuk permasalahan-permasalahan nasional, permasalahan-permasalahan yang menjadi bidik kamera media. Permasalahan- permasalahan daerah seringkali luput dari kepedulian gerakan mahasiswa. Padahal permasalahan-permasalahan daerah adalah permasalahan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Mereka mendengar, merasa dan menyaksikan permasalahan-permasalahan tersebut. Sudah semestinya gerakan mahasiswa dapat menyeimbangkan peran mereka pada skala nasional maupun daerah. Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung.

Gerakan mahasiswa adalah gerakan moral dan politik nilai. Gerakan ini ada sebagai penyambung lidah antara masyarakat dan pemerintah. Tujuan gerakan mahasiswa adalah terwujudnya sebuah konsep keadilan dalam proses pembangunan, keadilan dalam konteks kebijakan dan implementasi dilapangan.  Penulis membagi gerakan mahasiswa menjadi dua, sebagai berikut:

Gerakan vertikal

Gerakan vertikal adalah gerakan mahasiswa yang berupaya untuk mengontrol (social control) kebijakan-kebijakan pemerintah. Gerakan ini menempatkan mahasiswa sebagai penyeimbang. Penulis menganalogikan gerakan ini dengan upaya untuk menambal kebocoran pada genteng sebuah rumah. Apabila kita menggunakan wadah untuk menampung air hujan agar tidak membasahi seisi rumah, dalam batas waktu tertentu wadah itu tidak akan sanggup menampung air hujan yang menetes, akhirnya luber dan membasahi seisi rumah. Cara yang paling efektif untuk mengatasi kebocoran adalah dengan menambal genteng yang bocor. Solusi langsung tertuju pada sumber permasalahan, genteng yang bocor. Genteng yang bocor adalah kebijakan pemerintah. Setengah dari permasalahan akan selesai apabila kebijakan pemerintah sudah memihak kepentingan masyarakat umum. Tinggal proses pengawalan implementasi kebijakan tsb. Pada konteks permasalahan pendidikan di Kabupaten Bogor, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh gerakan vertikal mahasiswa, diantaranya:

  1. Melakukan audiensi dengan Dinas Pedidikan dan Bappeda Kabupaten Bogor guna menanyakan lebih jauh terkait data-data pendidikan diatas. Melakukan perbandingan dengan keadaan yang semestinya. Keadaan semetinya dapat dianalisis secara sederhana dengan membandingkan faktor-faktor pendukung dengan faktor-faktor penghambat. Selanjutnya, lakukan audiensi dengan Bupati Kabupaten Bogor, ajukan kotrak sosial, buat kesepakatan-kesepakatan antara mahasiswa dan Bupati terkait target-target pembangunan Pendidikan Kabupaten ke depan.
  2. Pembentukan opini publik. Pembentukan opini publik berfungsi sebagai pressure kepada Pemerintah Daerah serta untuk menggerakaan masyarakat agar berpartisipasi aktif dalam pembangunan pendidikan di Kabupaten Bogor.
  3. Memberikan tekanan kepada pemerintah daerah agar mengeluarkan Peraturan Daerah (PERDA) terkait pendidikan. Perda ini menjadi penting karena adanya paying hukum akan memperjelas arah pembangunan pendidikan Kabupaten Bogor ke depan.

 Gerakan Horizontal

                Gerakan horizontal merupakan gerakan kongkrit mahasiswa. Gerakan horizontal bertujuan untuk memberikan solusi dan kontribusi nyata atas permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Gerakan ini adalah gerakan penyeimbang dari gerakan vertikal. Publik akan mempertanyakan segala tuntutan perbaikan pendidikan dari mahasiswa, jika tuntutan perbaikan itu tidak dibarengi dengan kerja nyata mahasiswa untuk menjadi solusi atas permasalahan pendidikan yang ada. Gerakan horizontal peduli pendidikan Kabupaten Bogor yang dapat dilakukan, diantaranya:

  1. Program Community Development dan Community Service.

Program Community Development merupakan program pembinaan berkelanjutan atau jangka panjang. Program ini dapat dilaksanakan melalui kerja sama dengan pihak-pihak yang peduli terhadap pendidikan, baik negeri maupun swasta. Program harus terarah dan memiliki target perbaikan, baik pada kualitas maupun kuantitas. Program sejenis sudah banyak berkembang, diantaranya program Indonesia Mengajar dan Indonesia Menyala oleh Yayasan Indonesia Mengajar. Bagaimana dengan kontribusi mahasiswa?

Program Community Service atau yg lebih dikenal dengan bakti sosial adalah program jangka pendek dan bersifat sementara. Program ini hanya sebagai solusi jangka pendek. Program ini dapat dilakukan diantaranya dengan memberikan sumbangan berupa pakaian sekolah layak pakai, pemberian fasilitas belajar mengajar atau pembangunan gedung perpustakaan.

  1. Seminar dan Award Pendidikan

Seminar atau sejenisnya dilakukan dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Materi seminar dapat ditujukan untuk menambah wawasan guru-guru di Kabupaten Bogor, atau memberikan motivasi belajar pada siswa-siswinya. Award pendidikan bertujuan untuk memotivasi semua pihak baik pelaku pendidikan Kabupaten Bogor atau masyarakat umum untuk lebih peduli terhadap pendidikan Kabupaten Bogor. Adanya Award Pendidikan akan berbanding lurus dan saling menguatkan upaya pembentukan  opini publik yang dijelaskan diawal.

“Membangun daerah, membangun Indonesia kita”. Jika setiap kita dapat berpikir proporsional untuk membangun daerah, membenahi permasalahan bangsa dari permasalahan-permasalahan terdekat kita, niscaya masalah bangsa ini pun satu per satu akan terselesaikan. Permasalahan pendidikan bukanlah permasalahan biasa. Sumber Daya Manusia adalah mesin penggerak pembangunan. Rendahnya kualitas SDM berbanding lurus dengan rendahnya percepatan pembangunan yang ada. Peningkatan kualitas SDM hanya mungkin dilakukan dengan meningkatkan kualitas pendidikan. Dimanapun posisi kita dan apapun gerak kita, berpikirlah untuk menjadi solusi. Begitupun dengan keberadaan mahasiswa. Mahasiswa adalah solusi, lantang dijalan, menebar manfaat dilapang. Sedikit solusi, semoga menjadikan sekolah tidak lagi menjadi tempat yang menyeramkan.

Hendra Etri Gunawan

Penulis adalah Direktur Eksekutif Institute for Regional Investment and Development Studies (IRIDS) dan kordinator BEM se Bogor 2010.

Bahan Bacaan:

  1. Soedijarto. 2008. Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita. Jakarta: Kompas.
  2. Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

FOLLOW ME

KATEGORI

ARSIP

BLOG STATS

  • 14,209 hits
%d blogger menyukai ini: