Hendra EG "BAMaker" #BangkitMaju #BAMovement

Inspirator #BangkitMaju yang sarat pengalaman lapangan. Lantang berbicara, sebagai perpaduan akademisi dan praktisi. Menginspirasi dari kisah nyata kehidupan pribadinya. Hendra EG "BAMaker" siap membangunkan anda untuk BANGKIT dan MAJU menjadi lebih baik. Follow @HendraEG

Membangun Eskalasi Gerakan: Progresif Berkelanjutan (Bagian 1)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, eskalasi berarti kenaikan; pertambahan (volume, jumlah, dsb). Penulis mendefinisikan eskalasi gerakan sebagai pertambahan atau peningkatan daya dobrak gerakan mahasiswa dalam mencapai goal akhir gerakan. Gerakan mahasiswa merupakan gerakan moral dan politik nilai. Gerakan ini ada sebagai penyambung lidah antara masyarakat dan pemerintah. Tujuan gerakan mahasiswa adalah terwujudnya konsep keadilan dalam  proses pembangunan. Keadilan yang dimaksud adalah keadilan dalam konteks kebijakan dan aplikasi di lapangan. Turunan dari tujuan ini adalah bagaimana mahasiswa dapat menempatkan diri sebagai kontrol sosial dalam proses pembangunan tersebut. Disini fungsi pengendalian dijalankan agar setiap hal yang telah direncanakan atau dijanjikan dapat terlaksana sebagaimana mestinya. Gerakan ini yang disebut dengan gerakan vertikal, sebuah gerakan sebagai upaya untuk mengontrol segala kebijakan ataupun aplikasi kebijakan para pemimpin yang sedang berkuasa. Kajian, audiensi, propaganda media dan aksi jalanan bagian dari tools yang digunakan untuk mencapai tujuan ini (kontrol sosial).

Pada sisi lain, kita harus pula dapat memaknai bahwa adanya gerakan kita karena ada masyarakat disana. Kita ada karena jerit tangis rakyat atas ketidakadilan para penguasa. Kita adalah corong masyarakat. Dalam hal ini, kedekatan kita kepada masyarakat menjadi salah satu tolak ukur mendasar atas esensi adanya kita. Inilah  gerakan yang kita pahami sebagai gerakan horizontal mahasiswa. Gerakan ini menjadi bagian yang tidak boleh terlupakan. Selain menjadi kaum “langitan”, mahasiswa juga harus dapat membuktikan bahwa adanya mereka dapat memberikan solusi dan kontribusi nyata atas permasalahan yang ada dalam masyarakat. Masyarakat yang notabenenya adalah kaum yang “tidak tau apa-apa”, yang terpikir oleh mereka hanya bagaimana dapat makan dengan harga yang murah, dapat tidur nyenyak dengan rumah sewajarnya, dan sekolah untuk sekedar mencari kerja. Mereka tidak peduli dengan sepak terjang baik buruknya penguasa. Maka hal yang sangat wajar apabila ditengah diktatorisme Presiden Soeharto, masih banyak masyarakat yang mengaguminya, kerena pada masa pemerintahannya masyarakat merasakan segala sesuatunya menjadi sangat mudah dan murah.

Tentukan Isu yang akan diangkat

Bagi sebuah gerakan, isu bagaikan produk pada perusahaan. Isu inilah yang akan dijual ke publik dengan harapan publik dapat membeli (mendukung) isu tersebut. Pemilihan isu yang tepat di awal gerakan menjadi hal yang penting. Isu yang diangkat harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menentukan isu gerakan, diantaranya: Pertama, lakukan observasi atau pengamatan langsung ke lapangan serta mencermati pemberitaan di media massa. Dari sanalah kita dapat memantau perkembangan isu terkini dan dampaknya kepada masyarakat. Kedua, pilihlah salah satu isu yang dianggap prioritas untuk diangkat.  Dalam menentukan prioritas ini, kita harus melihat kebutuhan dari masyarakat. Pilihlah isu yang dianggap sangat penting dan mendesak untuk diselesaikan dan merupakan kebutuhan khalayak ramai. Jika gerakan kita beraliansi dengan gerakan lain, maka memilih prioritas isu yang akan diangkat harus merupakan kesepakatan bersama semua elemen gerakan. Ketiga, kemas isu dengan bungkusan atau bahasa yang menarik dan dipahami masyarakat, sehingga masyarakat menerima dan menyadari kenapa isu tersebut penting dan sangat berpengaruh terhadap kepentingan meraka. Berikut pertimbangan tambahan terkait isu gerakan yang prioritaskan untuk diangkat:

  1. Isu yang diangkat adalah isu yang masih hangat atau aktual dan menjadi perbincangan masyarakat.
  2. Media massa baik cetak ataupun elektronik mengangkat isu tersebut.
  3. Isu yang diangkat merupakan isu yang mudah dipahami, apabila isunya penting namun sulit dipahami, maka menjadi tugas kita untuk mencerdaskan masyarakat dengan bahasa yang mudah mereka pahami.
  4. Masyarakat adalah korban dari isu tersebut. Masyarakat sebagai konstituen  kita adalah pihak yang dirugikan atas permasalah yang berkembang.
  5. Isu tidak mengandung SARA dan GOLONGAN.

Setelah menentukan isu yang dianggap prioritas, gerakan harus konsisten dalam mengangkat isu tersebut. Hindari gerakan pragmatis oportunis. Gerakan pragmatis dan oportunis adalah gerakan yang hanya ingin mudahnya saja, instan dan memanfaatkan peluang tanpa memperdulikan idealisme dan tujuan akhir dari gerakan.

Kuasai Informasi terkait Isu

Diawal, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu perbedaan data, Informasi dan Pengetahuan. Hal ini menjadi penting karena banyak dari kita yang salah kaprah tentang pengertian ketiga hal tersebut, sehingga salah dalam mencari dan mempergunakan ketiga hal tersebut. Hal ini berdampak pada ketajamanan gerakan. Menurut Bergeron (2003 dalam Sangkala 2007), yang dimaksud dengan data adalah bilangan, terkait dengan angka-angka atau atribut-atribut yang bersifat kuantitas, yang berasal dari hasil observasi, eksperimen dan atau kalkulasi. Informasi adalah data di dalam satu konteks tertentu. Informasi merupakan kumpulan data dan terkait denga penjelasan, interpretasi dan dan berhubungan dengan materi lainnya mengenai objek peristiwa-peristiwa atau proses tertentu. Sedangkan pengetahuan adalah informasi yang telah diorganisasi, disintesiskan, diringkas untu meningkatkan pengertian, kesadaran atau pemahaman.

Davidson dan Voss (2002 dalam sangkala 2007) menambahkan bahwa perbedaan data, informasi dan pengetahuan didasarkan nilai hierarkinya. Informasi merupakan data yang disaring dan dimaknai, demikian pengetahuan adalah data yang disaring dan dimaknai. Data ditambahkan makna untuk menjadi informasi dan menambahkan tujuan ke informasi agar menjadi pengetahuan.

Information is the most dangerous weapon of all. Informasi diyakini sebagai senjata paling berbahaya yang pernah ada di sepanjang peradaban umat manusia. Peperangan dan percintaan, dua hal yang selalu menyelimuti bumi tidak akan pernah terwujud tanpa diawali dengan pertukaran informasi. Informasi yang terlambat datang, membuat Romeo dan Juliet tidak bisa bersatu di alam fana. Bahkan bual-bualan informasi tentang adanya senjata pemusnah massal, menjadikan irak sebagai bual-bualan Amerika. Benar kata Sun Tzu, “ setiap peperangan selalu didasarkan pada bualan demi bualan”.

Begitu pula dengan gerakan. Dalam membangun gerakan dibutuhkan informasi-informasi penunjang guna mempertajam pisau analisis dan menguatkan argumentasi terkait pengangkatan isu. Dengan informasi-informasi tersebut kita dapat meyakinkan publik bahwa isu yang kita angkat merupakan benar dan penting untuk segera dicarikan solusinya. Pada dunia gerakan, informasi dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

  1. Informasi yang tidak jelas sumbernya tetapi indikator kebenarannya bisa dilihat. Informasi ini dianalogikan seperti “kentut”, tidak jelas siapa sumbernya tetapi baunya ada. Dalam dunia gerakan, informasi ini banya berkeliaran. Informasi ini biasa dikenal dengan istilah rumor. Rumor adalah adalah bagian dari strategi gerakan psy-war, biasanya sangat bersifat politis. Informasi ini didapatkan apabila memiliki jaringan lobby dan informasi.
  2. Informasi dari media massa baik cetak maupun elektronik, seperti: Koran, televise, majalah, internet, dll. Informasi ini merupakan informasi publik yang mudah diakses. Untuk media cetak, kita dapat membuat kliping pemberitaan atau liputan yang relevan terhadap isu yang diangkat. Sehingga ada rekam jejak perkembangan isu dari hari ke hari, sekaligus sebagai bahan bukti penguat argumentasi apabila diperlukan.
  3. Informasi dari sumber terpercaya melalui penelitian-penelitian atau investigasi yang komprehensif. Informasi ini dapat diperoleh dari lembaga-lembaga terkait, seperti LSM, Instansi Pemerintahan, Tokoh, dll. Informasi-informasi dari instansi pemerintah bisa kita dapatkan melalui audiensi. Selain menyampaikan aspirasi atau hasil dari kajian informasi yang sudah kita dapatkan, audiensi juga bisa digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan informasi-informasi dari instansi yang didatangi. Informasi-informasi tersebut digunakan sebagai pengaya atau pembading dari informasi yang sudah ada. Lakukan kunjungan dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh atau pengamat terkait isu. Dari tokoh atau pengamat tersebut kita akan mendapatkan pengetahuan, bukan sekedar informasi. Mereka akan memberikan gambaran penggunaan informasi, sehingga gerakan kita dalam mendongkrak isu akan menjadi lebih tepat.

 

(Berlanjut…)

Daftar Pustaka

Sangkala. 2007. Knowledge Management. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Hendra Etri Gunawan

Kordinator BEM se Bogor 2010.

Direktur Eksekutif Institute for Regional Investment and Development Studies (IRIDS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25/07/2011 by in Gerakan Mahasiswa, Opini and tagged , , , , .

FOLLOW ME

KATEGORI

ARSIP

BLOG STATS

  • 14,209 hits
%d blogger menyukai ini: