Hendra EG "BAMaker" #BangkitMaju #BAMovement

Inspirator #BangkitMaju yang sarat pengalaman lapangan. Lantang berbicara, sebagai perpaduan akademisi dan praktisi. Menginspirasi dari kisah nyata kehidupan pribadinya. Hendra EG "BAMaker" siap membangunkan anda untuk BANGKIT dan MAJU menjadi lebih baik. Follow @HendraEG

Kita, Aliansi BEM se Bogor dan Negarawan

Pada titik ini saya ingin menyimpulkan bahwa kehidupan hanyalah siklus permainan peran.  Kampus dan pasca kampus. Idealisme dan Realitas. Entah, berapa aktivis hari ini yang harus terbangun menghadapi sebuah kenyataan bahwa negri ini hanya akan berputar pada siklus episode dimasing-masing peran. Saat jadi mahasiswa merekalah yang selalu memperjuangkan sesuatu yang dianggap ideal. Hanya sebatas perjuangan, karena mereka belum berperan sebagai pengambil keputusan. Mereka hanya sebagai orang luar yang mencoba menjadi pengawas atas berjalannya kekuasaan di negri ini. Memasuki pasca kampus, perlahan episode pun berputar. Kini saatnya mereka yang menjadi pengambil keputusan dan adik kelas mereka yang menjadi pengawas. Mereka dicaci, dimaki, didemo dan upaya-upaya pengawasan yang lainnya. Persis sama seperti yang mereka lakukan pada senior mereka saat mereka menjadi mahasiswa. Terus beputar seperti itu, membentuk siklus episode kehidupan. Setiap orang memerankan peran sesuai dengan episode yang sedang mereka lalui.

Pada masa mahasiswa kita pun mengenal kawan dan lawan dalam politik kampus. “Gw anak Ekstra Kampus X, lw anak Ekstra Kampus Y”. “Ekstra kampus gw yang paling OK, so kader ekstra kampus gw yang dirasa paling cocok untuk menjadi Kordinator”. Selentingan kesombongan masa muda yang sering kali kita jadikan bukti loyalitas kita pada organisasi ekstra kampus yang kita ikuti. Coba kita buka pikiran sejenak, apa bedanya Mahasiswa (Kampus) dengan Politisi (Indonesia). Hampir tidak ada, yang membedakan hanya episode kehidupannya saja. Mahasiswa dalam episode ngurusin kampus, politisi ngurusin Indonesia. Apa yang terjadi di dalam kehidupan politik kampus, hampir sama seperti yang terjadi pada kehidupan politik di negri ini. Ada golongan-golongan, ada kepentingan dari golongan-golongan. Ada perdebatan-perdebatan. Ada keributan-keributan. Persis sama.

Lalu apa hubungannya dengan siklus permainan peran yang dijelaskan diawal? Bisa jadi, memang kita dikader hanya sekedar untuk menggantikan. Berputar dalam permainan peran. Di kampus kita berperan sebagai Mahasiswa dan di skala Indonesia kita berperan sebagai politisi. Hanya sekedar junior menggantikan senior. Jika memang analisis sederhana ini benar, pantas saja negri ini berjalan ditempat. Omong kosong dengan jargon-jargon perubahan!.

Negarawan, yang Hilang dari Siklus

Negeri ini butuh negarawan. Orang-orang yang mencintai Negara dan Rakyat nya melebihi kecintaan mereka terhadap diri sendiri, keluarga dan golongannya. Mereka berpikir jangka panjang, membangun visi untuk kebaikan ke depan. Perbedaan menjadi sebuah potensi, mereka bangun titik temu atas setiap perbedaan yang ada. Kekuatan setiap orang akan mengarah pada titik yang sama. Kekuatan perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.

Kawan, kita lupa bahwa negri ini butuh negarawan, bukan sekedar politisi. Kehidupan kampus adalah sarana kita berlatih menuju dunia pasca kampus. Kita pahami medan yang akan kita temui di pasca kampus nanti membutuhkan negarawan. Tapi kita berlatih sekedar untuk menjadi politisi. Kita salah dalam berlatih. Kita tidak mempersiapkan apa yang seharusnya dibutuhkan, kita hanya mengikuti tradisi-tradisi yang sudah dahulu dilahirkan.

Kita terbiasa memperbesar perbedaan. Sangat sulit rasanya untuk bisa duduk bersama dan membangun koalisi secara dewasa. Kita sering menberikan cap haus jabatan kepada para pemimpin negri ini, lalu apa bedanya dengan kita dimasa kampus?. Kita pun seringkali menggunakan berbagai cara untuk mendapat posisi, “yang penting kader ekstar kampus kita yang maju”. Miris, seakan maling teriak maling.

BEM se Bogor adalah aliansi yang dibangun atas dasar kepentingan yang sama. Kampus yang tergabung di BEM se Bogor dipimpin oleh orang-orang dengan latar belakang ideologi dan organisasi ekstra kampus yang berbeda. Kita bertemu dan bersepakat untuk dapat berkontribusi bersama-sama. Kita yakini, bahwa gerakan yang dilakukan bersama akan lebih banyak menebar manfaat dibandingkan dengan gerakan sendiri-sendiri. Disinilah kita belajar menjadi negawaran. Tanggalkan sejenak kepentingan masing-masing kampus, fokuskan kekuatan pada kesepakatan-kesepakatan yang terbentuk. Terus bangun titik temu. Karena Indonesia masa depan, bisa jadi akan berawal dari “Kita, Aliansi BEM se Bogor dan Negarawan”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14/05/2012 by in Curhat Makna, Gerakan Mahasiswa, Opini and tagged , , , .

FOLLOW ME

KATEGORI

ARSIP

BLOG STATS

  • 14,209 hits
%d blogger menyukai ini: