Hendra EG "BAMaker" #BangkitMaju #BAMovement

Inspirator #BangkitMaju yang sarat pengalaman lapangan. Lantang berbicara, sebagai perpaduan akademisi dan praktisi. Menginspirasi dari kisah nyata kehidupan pribadinya. Hendra EG "BAMaker" siap membangunkan anda untuk BANGKIT dan MAJU menjadi lebih baik. Follow @HendraEG

Nenek Tua Dipadatnya KRL: Nilai Kepedulian yang Meluntur

Pagi yang indah, seindah harapan-harapan masa depan kita. Kenapa harapan masa depan? Karena tanpa harapan ke depan, aku yakin pagi ini menjadi pagi yang membosankan, penuh kejenuhan, dan cenderung kelam. Tiada passion untuk menjalani hari. Karena harapan kita lah, semangat keindahan itu ada.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, KRL pagi ini penuh sesak. Menunggu di tempat yang sama dan masuk ke gerbong yang sama. Menembus padatnya manusia, aku menelusup ke dalam. Nampak rongga kosong dikesesakan, aku tengok ke bawah, ada seorang nenek tua duduk melekuk. Nenek itu tampak lusuh, khas gaya nenek-nenek di kampung.”Itu nenek-nenek?”, tanyaku memastikan itu memang benar seorang nenek. “Iya“, jawab orang di sebelah kiri ku. “Kenapa tidak diminta duduk ke atas, bapak-bapak nya berdiri aja”, lanjutku. “Saya takut negurnya Pak“, jawab orang itu yang adalah seorang wanita. Wajar mungkin kalo seorang wanita takut menegur seorang pria, tapi banyak pria lain juga pada saat itu, dan kenyataannya mereka hanya diam.

Aku tidak akan mengupas begitu rendahnya kepedulian seorang bapak (pria) yang duduk santai padahal dia tahu ada seorang nenek tua duduk melekuk, tampak menahan sakit diperutnya. Tetapi aku lebih ingin membahas kenapa orang-orang di sampingnya hanya diam, tidak mencoba untuk menegur si Bapak yang duduk santai tsb.

Lunturnya Nilai Kepedulian.

Pada kehidupan akan selalu ada orang-orang yang acuh tak acuh dengan lingkungan sekitarnya. Itu adalah sunatullah, hal yang fitrah terjadi. Seperti ada hitam dan putih, jahat dan baik, setan dan malaikat. Namun menjadi masalah apabila hal itu dibenarkan atau dianggap biasa oleh orang-orang sekitarnya. Timbul ketidakpedulian terhadap ketidakpedulian orang lain. Ini yang terjadi saat itu. Begitu banyak penumpang, tapi tidak ada yang menegur si Bapak. Saya yakin masalahnya bukan takut, tapi lebih kepada ketidakpedulian. Bayangkan jika ketidakpedulian itu menjadi nilai sosial di masyarakat, apa jadinya negri ini.

Selamat Datang di Negri Ketidakpedulian.

Penguasa tidak peduli terhadap rakyatnya. Pengusaha tidak peduli terhadap buruhnya. Dan hari ini rakyat dan buruhpun tidak peduli dengan sesamanya. Inilah Negri Ketidakpedulian. Berharap negri ini tidak menjadi Negri Ketidakpedulian. Bangun kepedulian dimulai dari diri sendiri, dan mencoba menyerukan kepedulian itu kepada orang lain. Harus selalu ada penyeimbang. Jangan biarkan masyarakat kita menjadi masyakat yang memiliki nilai sosial ketidakpedulian. Akhir cerita diawal, si Bapak berdiri dan si Nenek pun duduk di bangku kereta. Terlihat raut sedih di muka si Nenek. Mungkin, di dalam hati si Nenek berkata,”Indonsesia ku tak seperti dulu“. Pagi menginspirasi. Smoga Allah selalu meluruskan niat-niat kepedulian kita. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 07/06/2012 by in Curhat Makna, Hikmah and tagged , , , , , , .

FOLLOW ME

KATEGORI

ARSIP

BLOG STATS

  • 14,209 hits
%d blogger menyukai ini: