Hendra EG "BAMaker" #BangkitMaju #BAMovement

Inspirator #BangkitMaju yang sarat pengalaman lapangan. Lantang berbicara, sebagai perpaduan akademisi dan praktisi. Menginspirasi dari kisah nyata kehidupan pribadinya. Hendra EG "BAMaker" siap membangunkan anda untuk BANGKIT dan MAJU menjadi lebih baik. Follow @HendraEG

Pekerjaan Rumah Indonesia Masa Depan: SINERGI*

Dunia aktivis mengajarkan ku tentang Indonesia. Detak jantung, denyut nadi dan hela nafas ku adalah Indonesia. Aku membicarakan Indonesia hampir setiap hari. Di jalan, di kantin, di mushola, dan di kamar tidur aku terpikir dan membicarakan Indonesia. Indonesia hadir saat aku bangun tidur sampai aku tidur kembali, bahkan mimpi ku saat tidur pun tentang Indonesia. Aku pribadi punya impian. Jika NH Junior lahir nanti, selain mengumandangkan azan, aku akan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Begitu cintanya aku terhadap Indonesia. Tidak hanya Aku, banyak teman-temanku sesama aktivis, mereka memiliki rasa cinta yang sama terhadap Indonesia.

Namun rasa cinta tersebut, tidak cukup membuat kami (baca: para aktivis) berpikir menggunakan cara atau kombinasi cara yang sama untuk mencintai Indonesia. Paling tidak itu yang terjadi di dunia kampus. Masing-masing kami memiliki cara dan merasa benar dengan caranya sendiri. Saling menyalahkan dengan cara yang lain. Jangankan berpikir menyamakan cara, mencari titik temu dengan mengkombinasikan cara pun sangat sulit rasanya. Diawal Aku berpikir, mungkin ideologi yang memisahkan kami. Walau masih ditingkat kampus, ideologi sering menjadi bahasan yang menarik untuk mencari pembenaran dari perbedaan.

Sebentar! apa benar karena ideologi? hmm..mari sejenak berpikir kembali. Kasihan si Ideologi sering disalahkan atas segala perbedaan. Walau sunatullohnya, pasti selalu ada perbedaan atas semua Ideologi, layaknya ada kebenaran dan kejahatan, hitam dan putih. Namun coba pikir kembali, tidak selamanya kondisinya seperti itu. Coba kita tarik kasus sederhana, HMI dan KAMMI, sama2 menyatakan ideologi islam, namun terasa sulit untuk duduk bersama dan mencari kombinasi cara yang sama untuk mencintai Indonesia. Memang pasti ada perbedaannya, tapi apakah islamnya (baca: ideologinya) tidak bisa menemukan cara yang sama?

Contoh lain, sama-sama menyatakan satu ideologi, satu organisasi, rapat dan berdiskusi di forum yang sama. Lalu apakah mereka sudah memiliki kombinasi cara yang sama? Aku rasa tidak. Pentolan-pentolan pada organisasi “ideologi” tersebut, sering kali berpikir dua kali untuk bersama dalam satu tim kerja. Sederhana pikirnya, jangan ada 2 singa dalam satu kandang. Mereka (baca: para pentolannya) merasa menjadi singa, dan beranggapan tidak boleh ada 2 singa dalam satu kandang. Jika diinternal organisasinya saja, masih sulit bekerja bersama. Bagaimana dengan hubungan antar organisasi. Lalu dimanakah masalahnya? Kenapa sulit mencari kombinasi cara yang sama?

Teringat pembicaraan singkat dengan Pak Mukhamad Mahdum (Direktur Perencanaan Usaha dan Pengembangan Dana LPDP). Jika ada yang berpendapat sudah terlalu banyak pemimpin di bangsa ini. Lalu mereka memilih jadi pengikut karena pemimpin yang banyak pun tidak menjadi solusi permasalahan bangsa, bahkan malah saling mencaci. Itu pemikiran yang salah. Mereka yang saling mencaci dan berebut kekuasaan, mereka bukan pemimpin. Jika mereka pemimpin, harusnya mereka dapat menemukan kombinasi cara yang sama untuk dapat memajukan Indonesia. Pemimpin-pemimpin yang dapat menemukan kombinasi cara inilah yang diperlukan Indonesia. Kombinasi cara dengan BERSINERGI.

Belajar Sinergi dari Uni Eropa

Uni Eropa atau European Union adalah sebuah organisasi antar-pemerintahan dan supra-nasional, yang terdiri dari negara-negara Eropa. Uni Eropa tidak serta merta terbentuk, Sejarah panjang penyatuan negara-negara Eropa sudah dimulai sejak 3000 tahun yang lalu sebelum negara-negara modern terbentuk. Beberapa upaya penyatuan melahirkan berbagai bentuk organisasi dan kelembagaan negara.

Pada tahun 1851 setelah Perang Dunia I dan Perang Dunia II dibentuk European Coal and Steel Community oleh Jerman, Perancis, Italia, dan negara-negara Benelux berdasarkan Perjanjian Paris (1951), pembentukan ini didasarkan upaya untuk membangun kembali Eropa pasca perang terutama stabilitas politik dan ekonomi serta menciptakan perdamaian di negara-negara Eropa. Pada tahun 1957 kemudian dibentuk European Economic Community berdasarkan Perjanjian Roma. Organisasi tersebut berubah menjadi Masyarakat Eropa yang merupakan pilar pertama dari Uni Eropa. Pembentukan Uni Eropa tersebut di bawah Perjanjian Uni Eropa (yang lebih dikenal dengan Perjanjian Maastricht) pada 1992.

Menurut Prof. Jimly Asshiddiqqie dalam bukunya pengantar ilmu tata negara, Uni Eropa merupakan bentuk baru dari susunan kenegaraan yang dahulu selama berabad-abad dipahami terdiri dari tiga kemungkinan bentuk yaitu negara kesatuan, negara serikat dan negara konfederasi. Uni Eropa adalah wadah bagi negara-negara Eropa yang dari waktu ke waktu menguat derajat integrasinya menjadi komunitas kenegaraan yang sama sekali tidak dapat dikategorikan dari ke tiga bentuk susunan organisasi kenegaraan terdahulu. Dengan kata lain Uni Eropa bisa disebut suatu bentuk negara baru. Tak ubahnya seperti negara pada umumnya Uni Eropa memiliki simbol-simbol kenegaraan.

Para pemimpin Negara Eropa mampu memecah teori lama tata negara. Mereka bersinergi dan tidak memperdulikan teori-teori tentang susunan kenegaraan yang sudah ada. Mereka membuat bendera, hari kebangsaan, lagu kebangsaan, motto, dan mata uang baru hasil dari sinergi. Mereka menemukan kombinasi cara, dengan meninggalkan cara-cara lama dari masing-masing negara. Ini adalah contoh sinergi yang luar biasa. Jika Uni Eropa yang merupakan gabungan antar negara saja bisa, apalagi Indonesia (skala negara) dan LPDP (skala organisasi).

Mari Bersinergi, Dimulai dari LPDP.

Sebelum kita berbicara Indonesia, mari kita berbicara LPDP. Di LPDP Aku belajar tentang sinergi. Sekali lagi, permasalahan sinergi bukan sekedar masalah ideologi atau permasalahan langitan lainnya, tapi masalah kematangan atau kedewasaan pribadi. Disinlah LPDP menguji. Bagaimana kita bisa mengontrol ego pribadi, mendengarkan sebelum meminta didengarkan, berpikir tentang kepentingan bersama, bersedia menjadi pengikut disaat yang lain memimpin. Pengikut dengan tetap memberikan yang terbaik sesuai posisi dan amanah yang diemban. Pemimpin yang baik adalah pengikut yang baik. HAPUS pemikiran tidak boleh ada singa dalam satu kandang. Satu, dua, atau berapapun jumlah singa dalam satu kandang, tidak akan ada masalah, bahkan menjadi potensi luar biasa disaat kita bisa bersinergi. Di LPDP banyak singa, para mantan pemimpin dari kampus masing-masing, mari bersama bersinergi. Menjadi singa-singa yang mengaum bersama dengan gagah untuk LPDP dan Indonesia.

Siapa yang tidak pernah mendengar kalimat bijak Soekarno ini:

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya.

Beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia”

 

Sepuluh pemuda, hanya akan menjadi seonggok daging segar, jika para pemuda tersebut tidak bersinergi. Sepuluh pemuda yang mampu mengguncangkan dunia adalah pemuda-pemuda yang mampu bersinergi, menjadikan 1 + 1 tidak lagi 2, tapi 11 bahkan lebih. Inilah kekuatan sinergi. Dimulai dari Sinergi di LPDP, kita selesaikan PR besar Indoensia Masa Depan. PEMUDA! SINERGI!

* Artikel ini diikutkan dalam Lompa Penulisan Artikel di Internal Pegawai LPDP (www.lpdp.depkeu.go.id), dan meraih JUARA 2 (dua).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28/10/2013 by in Opini and tagged , , , , , .

FOLLOW ME

KATEGORI

ARSIP

BLOG STATS

  • 14,209 hits
%d blogger menyukai ini: