Hendra EG "BAMaker" #BangkitMaju #BAMovement

Inspirator #BangkitMaju yang sarat pengalaman lapangan. Lantang berbicara, sebagai perpaduan akademisi dan praktisi. Menginspirasi dari kisah nyata kehidupan pribadinya. Hendra EG "BAMaker" siap membangunkan anda untuk BANGKIT dan MAJU menjadi lebih baik. Follow @HendraEG

Kepemimpinan : Sesederhana Memanusiakan Manusia

Tema Kepemimpinan, sering banget dibahas di pelatihan-pelatihan pengembangan diri. Terus dibahas, sampe sekarang. Koq? Iya, ini tema, ga ada habis-habis nya dan selalu menarik untuk dibahas. Mungkin karena Kepemimpinan erat hubungan nya dg manusia. Manusia yg diurusin. Selagi kedalaman manusia menjadi bahasan, disanalah kepemimpinan harus menyesuaikan.

Ada banyak ahli yg bicara kepemimpinan, mulai dr teori A sampe Z, nanti ada lagi teori AA, AB, AC dst dst. Saya bukan akademisi yg kuat secara teori. Saya yakin, masih banyak yg lebih “Mastah” kalo diminta ngebahas Teori Kepemimpinan. Saya mau sharing dari pengalaman saya memimpin ajah, dg sedikit dibumbui teori-teori yg berkembang. Karena berdasarkan pengalaman, sudah pasti akan sangat unik, dan sudah pasti berbeda dg yg lain. Jangankan yg beda pengalaman, yg mengalami satu peristiwa (pengalaman) yg sama aja, bisa di terima dg berbeda oleh masing-masing orang. Teori NLP bicara disini. Eitz, kita ga mau bahas NLP Gan. Kita lanjut ke tema Kepemimpinan. Singkat nye, latar belakang pengalaman/peristiwa saat itu dan sebelumnya yg dialami seseorang, membuat latar belakang seseorang menjadi berbeda. Perbedaan ini sangat mungkin membuat pandangan kita berbeda pula dalam membahas tema ini. Dan, perbedaan-perbedaan tsb, bisa membuat tulisan ini sangat debatetable. Semoga kita bisa sharing terbuka, untuk semakin memperkaya.

“Sesederhana Memanusiakan Manusia”. Sesederhana disini, bukan berarti saya menyepelekan aktivitas kepemimpinan ya. Kepemimpinan itu ngurusin manusia, maka unik nya menjadi pemimpin, berbanding lurus dg keunikan manusia. “Sederhana yg tidak menyederhanakan” #apasih #pusing pala barbie😀. “Sesederhana” disini, saya mau mengajak kamu-kamu untuk menghilangkan kepusingan ngebahas kepemimpinan secara teori, yg terkadang ngejelimet. Lakuin aja dulu, deketin diri sama pencipta manusia (Alloh), niscaya fitrah mu akan menggerakan mu menggerakan manusia yg lain.

“If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader” – John Q. Adams

Pointnya di – menginpirasi dan menggerakan. Kamu harus punya pengikut, jika ingin disebut leader. Pada bahasan sebelumnya, ada 3 sumber motivasi (capital) pada manusia, mulai dr Physical Capital, Intellectual Capital, Social Capital dan Spiritual Capital. Teori sumber motivasi manusia ini, juga menggambarkan perkembangan teori kepemimpinan. Kita mengenal istilah EQ (Emotional Questions) yg menjadi jalan untuk membangun Emotional Leadership. Dan kita juga mengenal istilah SQ (Spiritual Questions), yg menjadi panduan untuk membangun Spiritual Leadership. Pada perkembangan teori kepemimpinan saat ini, para ahli menempatkan Spiritual Leadership atau banyak yg lain menyebutnya Prophetic Leadership (saya kira sama), menjadi teori kepemimpinan ter update. Menggerakan manusia, dg menyentuh sisi terdalam dari diri nya, sehingga dia mau bergerak tanpa terus diberikan “bensin” penggerak. Krn apa? Krn sumber tenaga penggeraknya ada di dalam diri nya sendiri. Hingga dititik tertentu, dia akan berprinsip, “apa yg bs saya kontribusikan bagi Tim, Pokja, Organisasi atau Lembaga ini?”. Tidak lagi pada “apa yg saya dapatkan?”. Menyentuh sisi terdalam ini yg saya sebut dg “memanusiakan manusia”.

Jika saya gambarkan zona sentuhan itu menjadi lingkaran berzona. Zona 1 itu sisi terdalam, zona 2 sisi lebih luar, zona 3 sisi lebih luar lagi, dst dst, sampai zona ke 5. Maka sebelum masuk ke zona 1, kamu harus menyentuh zona 5, 4, 3, dan 2. Khususnya bagi ikatan leader-follower pada dunia kerja. Walau secara ideal tidak demikian, namun teori yg lain terkadang menegasikan teori yg ideal: orang butuh makan, sandang dan papan ; orang butuh aktualisasi diri ; dst dst.

Oke kita kembali. Di dunia kerja, orang bekerja untuk apa? Coba penuhi dulu kebutuhan dasar tersebut. Lewati dulu zona 5, 4, 3, dan 2 nya. Baru menuju zona 1. Orang butuh kepastian, orang butuh gaji dan tunjangan, orang butuh jaminan kesehatan, orang butuh lingkungan kerja yg sehat dan positif, orang butuh ruang ekspresi / aktualisasis diri, dst dst. Semuanya dibangun sesuai dg kemampuan masing-masing Lembaga atau Perusahaan. Semampu dan sekompetitif mungkin. Jika tidak sampai sama dg pesaing, kominikasikanlah, buat mereka terlibat dan insyallah sisi-sisi spiritualitas akan membuat mereka bertahan dan berkontribusi lebih lama. Kenapa harus demikian? Krn setiap teori, punya asumsi, dan asumsi terkadang tidak terpenuhi di dunia nyata. Teorinya mereka bs langsung kita gerakan dg menyentuh sisi spiritualnya, tp nyatanya mereka butuh uang untuk makan. Mereka butuh uang untuk menafkahi keluarga. Mereka butuh lingkungan kerja yg sehat dan positif, guna keseimbangan dalam hidup. Mereka butuh libur, agar mereka punya ruang-ruang lain dalam hidupnya, tidak hanya kantor, kantor dan kantor. Apalagi sekarang zaman nya Gen Y. Lebih ngunik lagi Gan.

Disaat fitrah bertemu fitrah, maka kamu dapat memegang prinsip ini “apa yg kamu anggap baik untuk diri kamu sendiri, maka akan baik untuk anggota mu, dan jika tidak, maka tidak baik pula untuk anggota mu”. Pakai standar fitrah ya Gan. Standar kebaikan universal. Jangan pake standar diri sendiri. Boleh aja pakai standar diri sendiri, tapi komunikasikan secara terbuka dan clear. Terbuka dan Clear. Kalo tidak terbuka dan clear. Itu namanya otoriter Gan. Otoriterism Leadership udah ke laut Gan! Beda zamaaan! Otoriterism Leadership, zamannya nya Om James Watt, era industrial. Zaman mesin, dan “memesinkan manusia”.

Kemampuan leader “memanusiakan manusia”, yg membedakan leader dg manager. Oke outputnya sama, sama-sama dapat nilai 8 (dari skala 10). Namun, manager tetaplah manager, yg hanya bisa mengatur, namun tidak untuk menginspirasi dan menggerakan. Bisa jadi output 8 itu adalah nilai tertinggi bagi manager, tp bagi seorang leader, dg effort yg lbh, dia bs mendapat 10, bahkan lbh dr 10 (extraordinary). Inilah LEADER!

Semoga manfaat menginspirasi. Silahkan di share.

Berdiskusi: @HendraEG

rcLxGnzpi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20/04/2015 by in HR Management and tagged , , .

FOLLOW ME

KATEGORI

ARSIP

BLOG STATS

  • 14,209 hits
%d blogger menyukai ini: